30/03/2017
Hari Film Nasional memang ditetapkan pada 30 Maret 1962, tapi sebenarnya industri film nasional sendiri sudah ada sejak tahun 1926, dan terus berkembang sampai tahun 1942 meskipun kalah bersaing dengan film-film asing. Pada saat itu para pemilik perusahaan film lokal adalah orang-orang Cina & Belanda.
Film nasional pertama yang hadir di Indonesia ialah film yang berjudul “Loetong Kasaroeng” pada tahun 1986, ini merupakan sebuah film bisu yang disutradarai oleh dua orang berkebangsaan Belanda yang bernama G. Krugers dan L. Heuveldorf. Film ini dibuat di Bandung dan para pemiannya orang-orang pribumi yang merupakan anak-anak dari bupati Bandung Wiranata Kusuma II.
Setelah berbagai film dibuat oleh sutradara dan perusahaan asing, akhirnya pada 30 Maret 1950 dilakukan syuting perdana film “Darah dan Doa” atau “Long March of Siliwangi” yang disutradarai dan diproduksi oleh orang asli Indonesia yakni Usmar Ismail melalui Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia). Film ini bercerita tentang seorang komando tentara yang terlibat cinta lokasi dengan seorang pengungsi wanita Indo-Belanda dalam sebuah perjalanan pengungsian.
Perfilman Indonesia sebenarnya bukan baru dimulai tahun 1950. Di bawah penjajahan Belanda, produksi film di tanah air sudah mulai jalan. Era awal perfilman Indonesia ini diawali dengan berdirinya bioskop pertama di Indonesia pada 5 Desember 1900 di daerah Tanah Abang, Batavia dengan nama Gambar Idoep yang menayangkan berbagai film bisu.
Karena ini merupakan film pertama (“Darah dan Doa” atau “Long March of Siliwangi” ) yang mencirikan Indonesia, Selain itu film ini juga merupakan film pertama yang benar-benar disutradarai oleh orang Indonesia asli dan juga diproduksi oleh perusahaan film milik orang Indonesia asli yang bernama Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia) dimana Usmar Ismail tercatat juga sebagai pendirinya. Karena itulah 30 Maret selalu diperingati sebagai Hari Film Nasional.. Pengambilan keputusan tersebut diambil pada 11 Oktober 1962 oleh Dewan Film Nasional yang melakukan konferensi dengan organisasi perfilman.
Memasuki tahun 1980an perfilman Indonesia bisa dibilang mencapai era keemasannya. Karena film Indonesia mampu menjadi raja di negeri sendiri. Namun memasuki akhir tahun 1990an, film Indonesia seperti terjun bebas. Bioskop-bioskop yang ada di kota besar selalu dipenuhi oleh film produksi Hollywood. Selain itu maraknya sinteron yang tayang di televisi nasioanal juga menurunkan tingkat kunjungan ke bioskop.
Semoga ke depannya, kita semua bisa menyaksikan karya-karya berkualitas yang dihasilkan oleh anak bangsa sendiri.
Selamat Hari Film Indonesia!