Shuffah adalah tempat atau lembaga untuk penggemblengan ilmu agama yang pertama dalam Islam. “Shuffah Hizbullah” di Mranggen adalah sebagai tempat atau lembaga yang pertama dalam Tarbiyah Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah di Jama’ah Muslimin (Hizbullah).
“Shuffah Hizbullah” Mranggen didirikan pada tanggal 7 Juli 1979/ 11 Sya’ban 1399 H oleh KH Abdullah Fadlil Ali Siradj (Amir Tarbiyah Wa Ta’lim Pus
at Jamaah Muslimin (Hizbullah) pertama) dan istri (Hj. Yakhsyallah Mansur M.A, (Imaamul Muslimin sekarang) dengan santri pertama sejumlah 8 yang salah satunya adalah KH. Arief Hizbullah (Mudir Al-Fatah Maos, Cilacap) kemudian diikuti dari berbagai daerah Kabupaten yang ada di Indonesia
Hal ini dilatar belakangi karena kebutuhan kader da’i dan ‘alim di kalangan Muslimin. Dengan berdirinya Pondok Pesantren “Shuffah Hizbullah” Mranggen beberapa tahun kemudian dibukalah Tarbiyah Khilafah di Cileungsi, Muhajirun, dan sebagainya. Atas Ketekunan, keuletan dan penggemblengan KH Abdullah Fadlil Ali Siradj, santri-santri yang belajar di “Suffah Hizbullah” Mranggen yang dinyatakan selesai oleh beliau saat ini telah memimpin di lembaga-lembaga “Al-Fatah” di berbagai tempat seperti antara lain di Maos Cilacap, Ambon, Lampung, Wonogiri dan Batam
Hal yang tidak dapat dipungikiri, bahwa alumni Pondok Pesantren “Shuffah Hizbullah” Mranggen telah menjdi pioner penggerak tarbiyah dan dakwah di lingkungan Jama’ah Muslimin (Hizbullah) khususnya dan di tengah-tengah ummat Islam pada umumnya serta dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi secara formal (S.1, S.2, S.3) baik di dalam negeri maupun di luar negeri, seperti antara lain LIPIA Cabang Saudi Arabia di Jakarta, IIQ di Wonosobo, Universitas Antar Bangsa - Malaysia, Universitas Internasional Afrika – Sudan, Universitas Al-Qur’anul Karim – Sudan, Universitas Al-Iman - Yaman. Keberhasilan beliau mengantarkan santri-santrinya menjadi orang-orang ‘alim adalah dengan konsep “Integritas Tarbiyah dan Amal Shaleh”. Pendidikan Pondok Pesantren “Shuffah Hizbullah” Mranggen lebih menngedepankan kajian-kajian kitab kuning (turots), sehingga santri dibekali ilmu-ilmu alat, disamping ilmu yang lain sebagai pengembangan wawasan