13/10/2019
GENERALIST VS SPECIALIST: MANAKAH YANG PALING DIBUTUHKAN
Kemaren terjadi diskusi yang cukup ramai dan menarik di kalangan STESFA, tentang penilaian banyak orang tentang dosen-dosen STESFA yang katanya banyak generalist (tahu banyak hal namun tak begitu mendalam) dan sedikit yang specialist (tahu sedikit hal atau hal tertentu tapi sangat mendalam).
Mungkin penilaian itu didasarkan pada banyak fakta bahwa para dosen STESFA ternyata memiliki peran di banyak hal.
Dunia dakwah ternyata tidak dimonopoli oleh para dosen agama, perdebatan hukum Islam tidak dimonopoli oleh dosen Hukum / Syariah sebagaimana dunia pendidikan Islam tidak hanya dimonopoli oleh dosen Tarbiyah.
Hampir semua dosen STESFA adalah “ahli” dunia spiritual. Jelekkah menjadi generalist?
Kalau kata generalist dimaknai dengan nada negatif sebagai tahu banyak hal tetapi tidak mendalam dan hanya tahu pengantar-pengantarnya saja tentu saja kata ini bermuatan makna kurang enak didengar sebagai sebuah fakta di lapangan.
Penyematan kata generalist ini secara general pada semua dosen STESFA adalah sebuah sindiran keras yang kurang tepat karena, faktanya, STESFA memiliki banyak orang yang paham secara mendalam beberapa bidang pengetahuan.
STESFA memiliki dosen yang sangat pakar dalam bidang sejarah Islam klasik, sejarah pemikiran Islam kontemporer, pendidikan Islam, ushul fiqh, tashawwuf, ekonomi Islam dan lainnya. Tidak perlu saya sebut nama mereka karena memang banyak untuk disebut. Tapi apakah mereka yang memiliki keahlian itu tidak mungkin dan tidak boleh memiliki keahlian di bidang lain?
Ulama-ulama pada masa lalu adalah manusia-manusia yang multi talenta dengan pengetahuan yang multi disiplin. Al-Ghazali tidak hanya jago di bidang tashawwuf namun juga pakar di bidang hukum Islam baik pada sisi teori atau prakteknya. Bahkan al-Ghazali juga memiliki keahlian di bidang lain.
Demikian juga Ibnu Sina yang tidak hanya pakar kedokteran namun juga pakar pada bidan-bidang lainnya. Al-Kwawarizmi, al-Biruni, al-Syafi’I dan juga yang lainnya adalah pakar di banyak bidang dengan pengetahuan yang sangat mendalam. Mereka semua rata-rata adalah pakar bahasa Arab juga. Mereka generalist, namun etiskah kita memandang mereka dengan pandangan negatif?
Mereka para generalist yang saya sebutkan di atas juga dikenal dengan istilah POLYMATH sebagai lawan dari istilah SPECIALIST.
Ada tulisan menarik dari Ayekin Tank bahwa era spesialist sudah lewat dan yang paling dibutuhkan kini adalah para generalist. Dia mengatakah: “Becoming a deep generalist who excels in multiple fields can increase your income, opportunities, and entrepreneurial success.” (Menjadi generalist yang menguasai banyak bidang akan meningkatkan penghasilan, peluag-peluang, dan kesuksesan usaha).
Tank menyebut banyak nama sebagai bukti, seperti Leonardo Da Vinci, Julie Taymor, and Donald Glover. Saya tersenyum sekali membayangkan para dosen STESFA yang sukses dan terkenal serta dicari banyak orang, ternyata mereka rata-rata adalah yang generalist atau polymath.
Masih berkonotasi jelekkah menjadi seorang generalist atau polymath?
Oxford Dictionary mendefinisikan polymath sebagai “a person of wide knowledge or learning” (seseorang dengan pengetahuan atau pembelajaran yang luas), dari bahasa Yunani yang berarti “having learned much.” Ada banyak definisi lain dari kamus lainnya yang tidak perlu saya sebutkan di sini. Namun, dari berbagai tulisan yang sempat saya baca sejak tahun lalu menngkonfirmasi bahwa pada masa digital yang sangat menggila dengan artificial intellegence (AI) dan teknologi robotics yang luar biasa dahsyatnya, semakin sedikit peran yang bisa diperankan oleh manusia, semua oleh mesin. Yang tersisa bagi manusia yang tak dimiliki oleh mesin adalah kemampuan untuk inovasi diri, kemampuan olah rasa dalam pergaulan sehingga mampu memahami apa yang dibutuhkan dan diharapkan masyarakat, serta kemampuannya mengkomunikasikan idenya dengan baik dan santun. Untuk kemampuan-kemampuan seperti ini sangat dibutuhkan mengetahuan dari berbagai bidang. Menjadi generalis menjadi penting.
Tulisan pendek ini tidaklah dimaksudkan mengkerdilkan makna menjadi specialist. Kita menghormati mereka yang tekun sekali pada satu bidang dan mempersembahkan kemanfaatannya bagi ummat. Mereka masih banyak dicari, di dunia medis utamanya. Terimakasih kami kepada para pakar itu. Namun, jangan kerdilkan p**a para sarjana yang “kebetulan” multi talenta dan mengetahui banyak bidang pengatahuan.
Salam
MMH