05/05/2021
Putih dan Abu-abu
Aku masih ingat roman bahagia diwajahmu ketika pertama bertemu dengan ku. Berhari-hari dari Senin hingga Sabtu hanya aku idolamu. Dengan motor bekas tetapi terasa baru yang suaranya menarik tangan untuk menutup kedua telinga tetap membuatku bangga bersamamu.
Di kelas dengan setia ku temani lelah, ketidakpahaman dan usahamu mengerjakan tugas bapak/ibu guru. Kamu anak baik dan pintar, ku lihat itu disetiap goresan dan peluh yang membasahiku.
Waktu terus berlalu, kamu mulai sering membuatku menangis. Batik, Kaos dan Coklat berkisah tentang kamu, betapa mereka dan aku dipakai tidak sesuai aturan. Aku tidak ingin dikeluarkan tapi kamu nyaman. Aku tak ingin dipasangkan dengan kesalahan tapi kamu berbahagia. Bahkan aku sering kamu pakai ketempat yang tidak ada gerbang sekolah, ruang kelas dan wajah bapak-ibu guru. Aku seolah tak mengenal wajah lugu, waktu dulu. Kamu berbeda dengan seringai tak bermakna.
Hari itu kulihat rona bahagia. Entah mengapa aku pun turut bahagia walau ku tahu ini bukan jalan biasanya. Kebahagiaan ku berubah menjadi tangis dan jeritan yang tak kau dengar. Kamu tertawa kencang dengan tubuhku yang tak lagi putih dan abu-abu, penuh warna menghapus kebanggaanku.
Terimakasih untuk akhirmu bersamaku. Aku hanyalah si putih dan abu-abu, yang berharap bertemu pemilik baru atau tersimpan rapi di lemari menatapmu berharap kamu melihatku melukis kenangan bersama. Ingatlah ini bukan akhir tapi awal perjalananmu, maafkan aku yang tak bisa menemanimu karena aku buka putih dan abu-abu kebanggamu.