26/04/2021
Rendra adalah buku yang tak pernah tamat kita baca. Ia merupakan tokoh besar yang belum tentu lahir 100 tahun sekali; seorang aktor panggung, seniman, dan budayawan, tapi ia lebih s**a dipanggil sebagai penyair.
Perjalanan kesenian Rendra betapa panjang dan berliku. Pada era orde baru, sikap kritisnya dianggap sering mengganggu stabilitas kekuasaan.
Rendra tidak menulis puisi di luar dunia. Rendra adalah bagian dari dunia itu sendiri. Ia terserap ke dalamnya untuk mengolah daya hidup dan kreativitas. Bagi Rendra, manusia harus unik, jujur dan kreatif. Dalam pengertian sebuah karya adalah hasil pendalaman eksistensial, bukan sekadar gemerlap pameran. Artinya, pada batin yang kering nilai, tak mungkin tumbuh kemurnian kesenian.
Bagi generasi masakini, yang ingin menghirup pengetahuan di tengah lalulintas informasi dan hasrat untuk mekar dalam wangi literasi, tentu tak boleh terhambat karena suasana konservatif nilai hari-hari ini. Millenials musti tumbuh dalam budaya bertukar argumen dan mampu menikmati keindahan dunia pikiran, bukan lantas terjebak dalam bekuan komunalisme; sehingga mereka bisa bercakap-cakap lintas keilmuan.
Dari semangat Rendra kita bisa belajar, bahwa kritik bisa dihadirkan betapa menawan namun tetap tajam. Dari Rendra kita tahu, bahwa ketika politik kekuasaan membelah melukai, puisi menyatukannya kembali.
Jadi, jangan lupa untuk hadir dalam acara kami...
Himasos Unusia