09/01/2025
Ave Neohistorian!
Apakah kalian pecinta musik lawas Indonesia? Atau, kalian pecinta lagu-lagu folk/balada?
Mungkin, grup musik ini dapat menjadi teman kalian dalam pencarian musik-musik lawas unik di Indonesia. Mereka dikenal dengan Kelompok Kampungan.
Mengutip Denny Sakrie (2013), Kelompok Kampungan berawal dari pentas teater komunitas Bengkel Teater W.S. Rendra di Yogyakarta. Ketika Rendra dan Bengkel Teater melakukan pentas, terdapat Nyai Pilis yang menjadi barikade scoring musiknya.
Dari Nyai Pilis, pada era 70-an, kelompok musik lain kemudian menyeruak, dikenal sebagai Kelompok Kampungan. Menurut Bram Makahekum (Sakrie, 2013), ia bernama “kampungan” karena memiliki makna unik, seperti “kejujuran, menerima apa adanya, tapi tetap memiliki semangat kreatif.”
Aqilah Mumtaza, Umilia Rokhani, dan Daniel de Fretes (2023), mengungkapkan bahwa Kelompok Kampungan aktif mengangkat puisi-puisi Rendra, yang sarat dengan kritik sosial, dalam bentuk rekaman kaset musikalisasi puisi. Rekaman tersebut kemudian diedarkan dari tangan ke tangan.
Selama bermusik, Kelompok Kampungan hanya menerbitkan sebuah album, yakni Mencari Tuhan (1980, dirilis ulang 2013 oleh Strawberry Rain). Aris Setyawan (2021) mengatakan bahwa album tersebut diburu oleh para kolektor, mengingat perjalanan hidup Kelompok Kampungan yang menjadi mitos.
Namun, perjalanan Kelompok Kampungan berubah menjadi sebuah dongeng. Lagu “Bung Karno”, yang menampilkan pidato Sukarno, membuat kelompok musik ini dicekal oleh rezim Orde Baru. Mereka kemudian bubar, dan menghilang dari peredaran (Wibisono, 2017).
Penulis: Intan
Penyunting: Ema
Referensi
- Mumtaza, A., Rokhani, U., de Fretes, D. (2023). Perkembangan Bentuk Penyajian Musikalisasi Puisi di Yogyakarta pada Tahun 2013-2023. Jurnal Seni Musik, 13(2). 64-77.
- Sakrie, Denny. (2013, 5 Juli). Mencari Kelompok Kampungan. Dennysakrie63’s Blog.
- Setyawan, Aris. (2021, 21 Oktober). Mencari Tuhan bersama Kelompok Kampungan. Pophariini.
- Wibisono, Nuran. (2017, 1