STAI Asshiddiqiyah Karawang

STAI Asshiddiqiyah Karawang Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Asshiddiqiyah adalah Sebuah lembaga pendidikan perguruan tinggi yang bernaungan dibawah Yayasan Asshiddiqiyah karawang.

Salah satu ciri manusia adalah berkembang dan selalu mengalami perubahan dari masa ke masa yang tiada henti, tanpa batas ruang dan waktu, dengan bekal yang dimiliki, yaitu akal fikiran dan kemampuan nalurinya. Manusia dapat mengembangkan wajah kehidupan ke arah yang lebih baik, dinamis, inovatif, dan produktif yang secara estafet terus berkelanjutan dari generasi ke generasi sehingga terciptalah s

uatu prestasi kemajuan peradaban-peradaban. Sebagai bagian dari peradaban, pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam upaya mewujudkan peradaban manusia yang sempurna, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Subhanahu Wata'ala, manusia yang mengetahui tujuan penciptanya yaitu untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wata'ala. Sebagaimana yang tertuang dalam firman-Nya:

وليخس الذين لو تركوا من خلفههم درية ضعافا خافوا عليهم فليتقوا الله وليقولوا قولا سديدا



"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (Annisa: 09)

Langkah-langkah yang diambil oleh Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 3 Karawang untuk mewujudkan agar masyarakat Indonesia umumnya dan masyarakat sekitar pesantren khususnya memiliki keturunan yang tidak lemah, maka Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 3 Karawang membuka Perguruan Tinggi yang berbasis Agama Islam untuk menunjang dan sesuai dengan visi-misi pondok pesantren. Pesantren yang merupakan salah satu benteng moral di masyarakat, harus mampu menciptakan dan menghasilkan intelektual-intelektual yang tidak hanya berkutat pada pemahaman islam secara tradisional, tapi juga harus dapat bergerak dinamis sesuai dengan perkembangan zaman. Sekolah Tinggi Agama Islam Asshiddiqiyah Karawang didirikan dengan maksud untuk mempersiapkan generasi yang memiliki kemampuan memadai baik dalam bidang ilmu-ilmu agama maupun pengetahuan ilmiah secara umum, memiliki kemampuan akademik yang mumpuni dan profesional di bidangnya yang dikemudian hari diharapkan dapat mempraktekkan, mengembangkan ilmu-ilmu agama dan ilmu ekonomi sesuai dengan syari'ah, memiliki pemahaman Islam yang mendalam, budi pekerti yang luhur (akhlakul karimah), mengupayakan penggunaan imtaq dan iptek untuk kesejahteraan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara meliputi jasmani dan rohani. Diharapkan seluruh lulusan STAI Asshiddiqiyah Karawang dapat menjawab tantangan masa depan terutama di bidang Pendidikan Islam dan Perekonomian Islam.

‏إنا لله وإنا إليه راجعون اللهم أجرنا في مصيبتنا واخلف لنا خيرا منها اللّهم اغفر لنا وله واعقبنا منه عقبى حسنة اللّهم اغ...
11/09/2019

‏إنا لله وإنا إليه راجعون اللهم أجرنا في مصيبتنا واخلف لنا خيرا منها اللّهم اغفر لنا وله واعقبنا منه عقبى حسنة اللّهم اغفر له وارفع درجته في المهديّين واخلفه في عقبه في الغابرين واغفر لنا وله يا رب العالمين وافسح له في قبره ونوّر له فيه

Silahkan tonton video ny !! 😉😁
16/08/2019

Silahkan tonton video ny !! 😉😁

Jangan ketinggalan, yuk kuliah di STAI Asshiddiqiyah 😄 Baca info ini ⬇
12/03/2019

Jangan ketinggalan, yuk kuliah di STAI Asshiddiqiyah 😄
Baca info ini ⬇

Keluarga Besar Asshiddiqiyah Karawang mengucapkan:Selamat dan sukses atas diselenggarakannya Munas Alim Ulama & konbes N...
24/11/2017

Keluarga Besar Asshiddiqiyah Karawang mengucapkan:

Selamat dan sukses atas diselenggarakannya Munas Alim Ulama & konbes NU 2017 " memperkokoh Nilai Kebangsaan melalui gerakan Deradikalisasi dan Penguatan Ekonomi warga"

Nusa Tenggara Barat
23-25 November 2017

18/10/2017

Musyawarah Mahasiswa (MUSMA) Ke-1
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)
STAI Asshiddiqiyah Karawang

Tema "Bergerak Serentak untuk BEM STAIAS Yang lebih Bermartabat"

Cilamaya Kulon, 18-19 oktober 2017

01/10/2017

:: KAROMAH SHALAWAT BADAR MENGALAHKAN LAGU SIHIR GENJER-GENJER PKI

Shalawat Badar adalah “Lagu Wajib” Nahdlatul Ulama. Berisi puji-pujian kepada Rasulullah ﷺ dan Ahli Badar (Para Sahabat yang mati syahid dalam Perang Badar). Berbentuk Syair, dinyanyikan dengan lagu yang khas.

Shalawat Badar digubah oleh Kiai Ali Mansur Banyuwangi, salah seorang cucu dari KH. Muhammad Shiddiq Jember tahun 1960. Kiai Ali Mansur saat itu menjabat Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi, sekaligus menjadi Ketua PCNU Banyuwangi.

Proses terciptanya Shalawat Badar penuh dengan misteri dan teka-teki.

Konon, pada suatu malam, Kiai Ali Mansur tidak bisa tidur. Hatinya merasa gelisah karena terus menerus memikirkan situasi politik yang semakin tidak menguntungkan NU. Orang-orang PKI semakin leluasa mendominasi kekuasaan dan berani membunuh kiai-kiai di pedesaan. Karena memang kiai-lah pesaing utama PKI saat itu.

Sambil merenung, Kiai Ali Mansur terus memainkan penanya di atas kertas, menulis syair-syair dalam bahasa arab. Dia memang dikenal mahir membuat syair sajak ketika masih belajar di Pesantren Lirboyo, Kediri.

Kegelisahan Kiai Ali Mansur berbaur dengan rasa heran, karena malam sebelumnya bermimpi didatangi para habib berjubah putih-hijau. Semakin mengherankan lagi, karena pada saat yang sama istrinya bermimpi bertemu Rasulullah ﷺ.

Keesokan harinya mimpi itu ditanyakan pada Habib Hadi Al-Haddar Banyuwangi. Habib Hadi menjawab, "Itu Ahli Badar, ya Akhy.”

Kedua mimpi aneh dan terjadi secara bersamaan itulah yang mendorong dirinya menulis syair, yang kemudian dikenal dengan Shalawat Badar.

Keheranan muncul lagi karena keesokan harinya banyak tetangga yang datang kerumahnya sambil mebawa beras, daging, dan lain sebagainya, layaknya akan mendatangi orang yang akan punya hajat mantu.

Mereka bercerita, bahwa pagi-pagi buta pintu rumah mereka didatangi orang berjubah putih yang memberitahukan bahwa dirumah Kiai Ali Mansur akan ada kegiatan besar. Mereka diminta membantu. Maka mereka pun membantu sesuai dengan kemampuannya.

“Siapa orang yang berjubah putih itu?” Pertanyaan itu terus mengiang-ngiang dalam benak Kiai Ali Mansur tanpa jawaban. Namun malam itu banyak orang bekerja di dapur untuk menyambut kedatangan tamu, yang mereka sendiri tidak tahu siapa, dari mana dan untuk apa?

Menjelang matahari terbit, serombongan habib berjubah putih-hijau dipimpin oleh Habib Ali bin Abdurrahman al- Habsyi dari Kwitang Jakarta, datang ke rumah Kia Ali Mansur.

“Alhamdulillah,” ucap kiai Ali Mansur ketika melihat rombongan yang datang adalah para habaib yang sangat dihormati keluaganya.

Setelah berbincang basa-basi sebagai pengantar, membahas perkembangan PKI dan kondisi politik nasional yang semakin tidak menguntungkan, Habib Ali menanyakan topik lain yang tidak diduga oleh Kiai Ali Mansur.

“Ya Akhy! Mana Syair yang ente buat kemarin? Tolong ente bacakan dan lagukan di hadapan kami-kami ini!” Kata Habib Ali.

Tentu saja Kiai Ali Mansur terkejut, sebab Habib Ali tahu apa yang dikerjakannya semalam. Namun ia memaklumi, mungkin itulah karomah yang diberikan ALLAH kepadanya. Sebab dalam dunia kewalian, pemandangan seperti itu bukanlah perkara aneh dan perlu dicurigai.

Segera Kiai Ali Mansur mengambil kertas yang berisi Shalawat Badar hasil gubahannya semalam, lalu melagukannya dihadapan mereka. Secara kebetulan Kiai Ali Mansur juga memiliki suara bagus.

Di tengah alunan suara Shalawat Badar itu para Habaib mendengarkannya dengan khusyuk. Tak lama kemudian mereka meneteskan air mata karena haru.

Selesai mendengarkan Shalawat Badar yang dikumandangkan oleh Kiai Ali Mansur, Habib segera bangkit. “Ya Akhy, mari kita perangi genjer-genjer PKI itu dengan Shalawat Badar!” serunya dengan nada mantap.

Setelah Habib Ali memimpin doa, lalu rombongan itu mohon diri. Sejak saat itu terkenal lah Shalawat Badar sebagai bacaan warga NU untuk membangkitkan semangat melawan orang-orang PKI.

Untuk lebih mempopulerkannya, Habib Ali mengundang para habib dan ulama (termasuk Kiai Ali Mansur dan KH. Ahmad Qusyairi, paman Kiai Ali Mansur) ke Jalan Kwitang, Jakarta. Di forum istimewa itulah Shalawat Badar dikumandangkan.
[والله أعلمُ بالـصواب]

TEKS SHOLAWAT BADAR

صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ عَـلَى طـهَ رَسُـوْلِ اللهِ

Shalaatullaah Salaamul laah ‘Alaa Thaaha Rasuulillaah

صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ عَـلَى يـس حَبِيْـبِ اللهِ

Shalaatullaah Salaamullah ‘Alaa Yaa Siin Habiibillaah

تَوَ سَـلْنَا بِـبِـسْـمِ اللّهِ وَبِالْـهَادِى رَسُـوْلِ اللهِ

Tawassalnaa Bibismi llaah Wabil Haadi Rasuulillaah

وَ كُــلِّ مُجَـا هِـدِ لِلّهِ بِاَهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ

Wakulli Mujaahidin Lillaah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

اِلهِـى سَـلِّـمِ اْلاُمـَّة مِـنَ اْلافـَاتِ وَالنِّـقْـمَةَ

llaahi Sallimil Ummah Minal Aafaati Wanniqmah

وَمِنْ هَـمٍ وَمِنْ غُـمَّـةٍ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ

Wamin Hammin Wamin Ghummah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

اِلهِى نَجِّـنَا وَاكْـشِـفْ جَـمِيْعَ اَذِ يـَّةٍ وَا صْرِفْ

Ilaahi Najjinaa Waksyif Jamii’a Adziyyatin Wahrif

مَـكَائـدَ الْعِـدَا وَالْطُـفْ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ

Makaa idal ‘idaa wal thuf Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

اِلهِـى نَـفِّـسِ الْـكُـرَبَا مِنَ الْعَـاصِيْـنَ وَالْعَطْـبَا

llaahi Naffisil Kurbaa Minal’Ashiina Wal’Athbaa

وَ كُـلِّ بـَلِـيَّـةٍ وَوَبـَا بِاَهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ

Wakulli Baliyyatin Wawabaa Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

فَكَــمْ مِنْ رَحْمَةٍ حَصَلَتْ وَكَــمْ مِنْ ذِلَّـةٍ فَصَلَتْ

Wakam Min Rahmatin Washalat Wakam Min Dzillatin Fashalat

وَكَـمْ مِنْ نِعْمـَةٍ وَصَلَـتْ بِاَهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ

Wakam Min Ni’matin Washalat Bi Ahlil Bailri Yaa Allaah

وَ كَـمْ اَغْـنَيْتَ ذَالْعُـمْرِ وَكَـمْ اَوْلَيْـتَ ذَاالْفَـقْـرِ

Wakam Aghnaita Dzal ‘Umri Wakam Autaita D’Zal Faqri

وَكَـمْ عَافَـيـْتَ ذِاالْـوِذْرِ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ

Wakam’Aafaita Dzal Wizri Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

لَـقَدْ ضَاقَتْ عَلَى الْقَـلْـبِ جَمِـيْعُ اْلاَرْضِ مَعْ رَحْبِ

Laqad Dlaaqat’Alal Oalbi Jamii’ul Ardli Ma’ Rahbi

فَانْـجِ مِنَ الْبَلاَ الصَّعْـبِ بِاَهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ

Fa Anji Minal Balaas Sha’bi Bi Ahlil Badri Yaa A,llaah

ا َتَيـْنَا طَـالِـبِى الرِّفْـد وَجُـلِّ الْخَـيْرِ وَالسَّـعْدِ

Atainaa Thaalibir Rifdi Wajullil Khairi Was Sa’di

فَوَ سِّـعْ مِنْحَـةَ اْلاَيـْدِىْ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ

Fawassi’ Minhatal Aidii Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

فَـلاَ تَرْدُدْ مَـعَ الْخَـيـْبَةْ بَلِ اجْعَلْـنَاعَلَى الطَّيْبـَةْ

Falaa Tardud Ma’al Khaibah Balij’Alnaa’Alath Thaibah

اَيـَا ذَاالْعِـزِّ وَالْهَـيـْبَةْ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ

Ayaa Dzal ‘lzzi Wal Haibah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

وَ اِنْ تَرْدُدْ فَـمَنْ نَأْتـِىْ بِـنَيـْلِ جَمِيـْعِ حَاجَا تِى

Wain Tardud Faman Ya-Tii Binaili Jamii’i Haajaati

اَيـَا جَـالِى الْمُـلِـمـَّاتِ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ

Ayaa jalail mulimmaati Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

اِلهِـى اغْفِـرِ وَاَ كْرِ مْنَـا بِـنَيـْلِ مـَطَا لِبٍ مِنَّا

llaahighfir Wa Akrimnaa Binaili Mathaalibin Minnaa

وَ دَفْـعِ مَسَـاءَةٍ عَـنَّا بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ

Wadaf i Masaa-Atin ‘Annaa Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

اِلهِـى اَنـْتَ ذُوْ لُطْـفٍ وَذُوْ فَـضْلٍ وَذُوْ عَطْـفٍ

llaahii Anta Dzuu Luthfin Wadzuu Fadl-Lin Wadzuu ‘Athfin

وَكَـمْ مِنْ كُـرْبـَةٍ تَنـْفِىْ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ

Wakam Min Kurbatin Tanfii Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

وَصَلِّ عَـلَى النـَّبِىِّ الْبَـرِّ بـِلاَ عَـدٍّ وَلاَ حَـصْـرِ

Washalli ‘Alan Nabil Barri Bilaa ‘Addin Walaa Hashri

وَالِ سَـادَةٍ غُــــرِّ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ

Wa Aali Saadatin Ghurri Bi Ahlil Badri Yaa Allaah.



[Copas]

01/10/2017

:: KNM STAI ASSHIDDIQIYAH KARAWANG 2017
Kuliah Nyata Mahasiswa (KNM) tersebut berlokasi dsn, kecemek ds, bayur kidul kec, cilamaya kulon kab, karawang.

01/10/2017

Masa Ta’aruf Mahasiswa (Mastama) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Asshiddiqiyah Karawang, tahun pelajaran 2017/2018.

Merupakan kegiatan Orientasi kampus, di laksanakan selama tiga hari pada tanggal 28-09-17 s/d 30-09-17. Dua hari di kampus dengan berbagai kegiatan seperti; materi tri dharma perguruan tinggi, pengenalan kampus, keagamaan, keorganisasian, selayang pandang prodi MPI, dan diselingi dengan game have fun.

Kemudian satu hari di Curug Cijalu yang berlokasi di Kecamatan Wanayasa, peserta Mastama yang berjumlah 31 orang itu melakukan longmatc education game, penyematan dan sekaligus penutupan kegiatan MASTAMA.

24/04/2017

:: MENJADI AKTIVIS ITU NIKMAT

BANDUNG,- Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat KH. Hasan Nuri Hidayatulloh mengatakan bahwa menjadi aktivis itu nikmat jika ia mampu mengejawantahkan aktivisnya secara benar.

“Hal kecil maupun besar yang dialami dalam proses aktivasi organisasi itu kelak adalah bekal ampuh agar bisa survive di kehidupan berikutnya, yang tentu tidak semua berada di ruang dan waktu yang sama”, kata Gus Hassan, biasa beliau disapa sebagaimana disampaikan dalam status Fb-nya, Sabtu (29/10/2016).

Salah satu tantangan yang seringkali dihadapi oleh seorang aktivis, ungkap Gus Hassan, diantaranya benturan antara tanggungjawab sosial sebagai aktivis dengan kebutuhan primer pribadi, terutama bagi yang sudah berumah tangga.

“”Satu sisi ia wajib banting tulang membahagiakan istri dan keluarga, sisi lain ia harus kerja keras tetap membuat dirinya, kawan-kawannya dan organisasi yang ia naungi harus tetap tegak berdiri -minimal tidak merepotkan- orang lain”, lanjutnya.

Kemudian Pimpinan Pesantren Asshidiqiyah Karawang ini mengutip maqalah yang disampaikan Syekh Mutawalli Sya’rawi dalam suatu kitab yang mengatakan : كلما زادت الصدقة زاد الرزق .
“Shadaqah tambah = Rizki Tambah”, maknanya bahwa dalam konteks pencarian rizki sebagai sebuah kewajiban kita memang harus melakukannya.

“Apapun itu bentuknya yang penting halal. Kata orangtua, biarpun kaki jadi kepala dan kepala jadi kaki, kerja adalah kewajiban”, tegasnya.

Selanjutnya Gus Hassan mengajak para aktivis NU, untuk belajar kepada para pendiri NU. Menurutnya, NU dibentuk dari pelbagai tingkatan kekuatan ekonomi pengurusnya. Namun NU saat itu menjadi sangat kuat karena berangkat bersama-sama dengan niat mulia yakni “MENGHIDUPI NU bukan HIDUP DARI NU”.

“Para kyai kita dahulu sangat “royal”, ketika sudah bertujuan sama membangun NU sesuai dengan porsi masing-masing”, jelasnya.

Sebagai Ketua Tanfidziyah NU Jawa Barat yang baru saja terpilih, beliau meyakinkan bahwa dengan mengikuti jejak teladan para pendahulu NU dalam berkhidmat, NU Jawa Barat akan lebih berkembang bagi kemapanan organisasi dan jama’ahnya.

“NU Jabar kedepan akan kita bangun bersama dengan segenap kekuatan dan elemen pendukung yang ada. Saya yakin sekali, semua kader NU di Jabar siap “BERSEDEKAH” Untuk kebesaran NU”, tuturnya meyakinkan.

Konteks sedekah dalam memajukan organisasi, menurut alumnus Rubath Al-Jufri Madinah ini, tidak melulu kita artikan sebagai finansial semata, tapi juga dapat berupa tenaga, Supporting, doa dan bahkan kritik produktif.

“Jika sedekah-sedekah itu menyatu, niscaya NU Jabar akan mendapatkan rizki yang luar biasa yakni kemapanan organisasi dan jamaahnya. Bagi saya hari ini, Rizki yang sebesarnya adalah berdirinya NU Jabar secara mandiri dan juga ditopang oleh seluruh elemen NU di sekitarnya”, terang Gus Hassan.

Gus Hasan mengajak kepada segenap aktivis dan kader NU Jabar untuk berlomba-lomba bersedekah bagi kemajuan NU Jawa Barat.

“Wahai para aktivis dan para kader, apa yang kalian bisa berikan untuk NU? Itulah sedekah yang akan menambah rizki kalian”, pungkasnya. (Edi Rusyandi)

24/04/2017

Edisi 29 Maret 2017

SPIRIT RAHMAH DALAM AL-QURAN SURAT ALI IMRAN: 159

Oleh: KH. Hasan Nuri Hidayatullah



Islam memiliki nilai-nilai yang luhur, bersifat universal, dapat direalisasikan oleh semua ummat manusia di muka bumi ini. Salah satu nilai terpenting dalam ajaran Islam adalah ‘rahmah’, kasih sayang. Rasulullah SAW membawa risalah Islam ke muka bumi dengan berpegang teguh pada nilai Rahmah ini.

Allah Ta’ala berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْكُنتَ فَظًّا غَلِيظَا لْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْلَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِفَإِذَاعَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّاللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ ﴿١٥٩﴾

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Ali Imran: 159).

Spirit Rahmah ini menjadi prinsip bagi Baginda Nabi SAW dalam mengajak manusia menuju Dīnul Islām. Siapapun makhluknya pasti akan luluh dan betah jika diberikan rasa Rahmah ini, jiwanya nyaman, tentram, dan damai.

Dari ayat di atas jelaslah kiranya bahwa kesuksesan baginda Nabi Muhammad dalam berdakwah tak terlepas dari perilaku beliau yang penuh dengan kasih sayang, lemah lembut, jauh dari sikap kasar dan semena-mena, selalu memaafkan, memintakan ampun kepada Allah atas segala perilaku mereka, sekaligus mendo’akan mereka mendapatkan Hidayah. Beliau juga senantiasa bermusyawarah mufakat dalam menghadapi beragam problema keummatan, agar semua orang terlibat guna bertanggung jawab atas beragam persoalan tersebut.

Berkaitan dengan hal tersebut, sebagai contoh seorang ibu memiliki Rahim, tempat bagi sang bayi berada di dalam kandungan ibunya selama kurang lebih 9 bulan, tidak ada jendela atau pentilasi sekecil apapun, namun bayi tetap betah dan terlindungi, bahkan asupan makan dan minumnya terpenuhi, walaupun faktanya, rahim itu tempat yang amat sempit. Inilah keajaiban Rahim ibu, kasih sayang ibu.

Ajaran Rahmah (kasih sayang) tentu memiliki efek yang begitu besar dalam rangka membangun peradaban ummat manusia yang mulia walaupun di tengah atmosfer masyarakat yang gersang, hancur akhlak, lemah berpikir, penuh kekacauan. Spirit Rahmah ini sudah dibuktikan dengan kesuksesan baginda Nabi Muhammad SAW dalam membangun peradaban ummat manusia di jazirah Arab pada abad ke-6, di mana masyarakat Arab saat itu begitu terkenal kejahiliyyahannya, mabuk-mabukan, berzina, dan membunuh adalah serangkaian bentuk kejahatan dan kejahiliyahan mereka. Namun dengan sikap (baik verbal maupun non verbal) yang penuh Rahmah itulah beliau mampu menundukkan kejahiliyyahan mereka, membentuk masyarakat berperadaban yang pengaruhnya menyebar luas ke seluruh dunia. Hingga sebagian Ulama mengartikan gelar Ummiy bagi Baginda Nabi Muhammad SAW bukan “orang yang tak mampu membaca dan menulis” melainkan Ummiy di situ bermakna “keibuan” dalam arti dakwah Rasul selalu ngemong (bahasa Jawa) mengayomi tanpa mencaci, merangkul bukan memukul, membimbing dengan sepenuh hati, yang diliputi kasih sayang layaknya seorang ibu.

Menebar kasih sayang (Rahmah) ini mesti tak pandang agama, etnis, dan golongan, kepada siapapun spirit ini harus kita tebarkan, di manapun dan kepada siapapun. Kita tahu Nabi Ibrahim a.s. adalah seorang Nabi yang sangat s**a dan bahagia didatangi tamu yang hendak silaturahmi padanya yang lantas beliau jamu dengan makanan yang beliau miliki, sehari saja beliau tak ada tamu di rumahnya, beliau akan terasa ada yang kosong dalam hidupnya, beliau akan mencari-cari orang yang mau kiranya datang ke rumahnya dan makan bersamanya, maka tak heran beliau diberi gelar “Khalilullah” Kekasih Allah.

Pada suatu hari Nabi Ibrahim didatangi seorang tamu yang beragama Majusi, namun aneh, kali ini tamu tersebut diusir oleh Nabi Ibrahim, hanya karena ia beragama Majusi. Lantas orang Majusi tersebut pergi, menjauh dari pandangan Nabi Ibarahim a.s., seketika itu Allah menegur Nabi Ibrahim a.s. “Ibrahim, mengapa kau usir tamumu itu?” tanya Allah. “Ya Rabb, bagaimana mungkin Aku menerima tamu tersebut, sementara dia tidak beriman pada-Mu?” jawab Nabi Ibrahim. “Sebelum kau terima dia sebagai tamumu, siapakah yang memberi dia usia hingga masih hidup sampai saat ini?” tanya Allah. “Engkau Ya Rabb”, jawab Nabi Ibrahim. “Sebelum nanti kau jamu dia, siapakah yang memberi dia makanan dan minuman sebagai rejeki baginya?” tanya Allah kembali. “Engkau Ya Rabb”, jawab Nabi Ibrahim kembali. “Siapa p**a yang memberikan dia bentuk fisik dan pakaian supaya ia terlihat sebagai manusia seutuhnya?” tanya Allah. “Engkau Ya Rabb” jawab Nabi Ibrahim. “Aku saja yang menciptakan dia dan seluruh makhluk-Ku sudi untuk memberikannya hidup (umur), rejeki, dan lainnya, lantas bagaimana dengan dirimu, yang seluruh hidup, rejekimu, dan semuanya Aku yang menanggung, sementara kau tak sudi menerima dia sebagai tamumu, tak mau kau jamu, hanya gara-gara dia belum beriman pada-Ku?” Pungkas Allah, menegur Nabi Ibrahim a.s. Segera saat itu Nabi Ibrahim bertaubat kepada Allah dan langsung mencari seorang Majusi yang beliau usir itu untuk meminta maaf atas kesalahannya dan menerimanya sebagai tamu beliau.

Ajaran Rahmah ini meliputi seluruh aspek kehidupan, yang secara aksiologis adalah untuk tercipta kedamaian dan ketentraman ummat manusia. Sebagai contoh kecil, dalam Islam, berbuat “Tarwi” (membuat kaget orang) itu termasuk dosa, apalagi “Takhwif” (menakuti orang), menebar teror dan ancaman, mengusik ketenangan, membuat kerusuhan dan lain sebagainya, semuanya diharamkan oleh Islam, saking luhur dan universalnya ajaran Rahmah ini, melindungi hak segenap ummat manusia. (AM/narator).

24/11/2016

:: STIT ASSHIDDIQIYAH KARAWANG

VISI

Berwawasan Global,

Inovatif,

Berlandaskan akhlaqul karimah


MISI

1. Menciptakan sumberdaya manusia yang mampu mengantisipasi perkembangan zaman dengan basis akhlaqul karimah;

2. Menyelenggarakan pendidikan dan mengembangkan disiplin keilmuan dengan karakter kesalehan intelektual;

3. Menyelenggarakan kajian keilmuan dalam perspektif ajaran Islam;

4. Melakukan pengabdian kepada masyarakat untuk memberdayakan umat dalam kerangka pengembangan nilai-nilai keislaman.

24/11/2016

:: POTRET PENELITIAN DI STIT: HARAPAN DAN KENYATAAN

Ada pertanyaan filosofis untuk mengkritisi keberadaan perguruan tinggi agama Islam dewasa ini. Apa sebetulnya tujuan didirikannya STIT, apakah hanya sekedar menampung mahasiswa atau hanya sekedar memberi pekerjaan pada dosen. Jawaban ini bisa kita peroleh melalui PP no 60 tahun 1999 bab II pasal 2 bahwa Perguruan Tinggi amatlah strategis setidaknya hal ini sebagaimana terefleksi dalam esensi tujuan pendidikan tinggi pertama, menyiapkan peserta didik agar menjadi anggota anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan memperkaya ilmu pengetahuan dan kesenian. Kedua, Mengembangkan dan menyebarluaskan Ilmu Pengetahuan dan kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan Nasional.

Tujuan sebagaimana tersebut di atas, sesuai dengan sasaran sebagaimana yang akan dicapai oleh STIT, antara lain: pertama,menghasilkan lulusan yang bermutu, berguna bagi masyarakat di bidang ilmu agama Islam, dan kedua mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu agama dan kebudayaan Islam demi kemaslahatan masyarakat.

Kalau dilihat dari sini, maka dalam konteks mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu agama, peran penelitian sangatlah dominan. Sedangkan bagi kemaslahatan masyarakat bisa diterjemahkan sebagai tugas pengabdian masyarakat (PPM). Jadi muara dari penelitian dan pengabdian kepada masyarakat tidak lain adalah masyarakat itu sendiri.

Address

Jalan Singaperbangsa, Pasirukem Cilamaya Kulon
Karawang
41384

Opening Hours

Monday 13:00 - 17:00
Tuesday 13:00 - 17:00
Thursday 13:00 - 17:00
Friday 13:00 - 17:00
Saturday 13:00 - 17:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when STAI Asshiddiqiyah Karawang posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The University

Send a message to STAI Asshiddiqiyah Karawang:

Share