17/07/2025
Sebuah riset dari Pew Research menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen lulusan universitas di Amerika Serikat tidak lagi membaca satu pun buku non-fiksi setahun setelah kelulusan. Ini bukan soal minat baca, tapi indikasi bahwa pendidikan seringkali dianggap selesai saat gelar diberikan, bukan saat pemahaman bertumbuh. Jacques Rancière menyebutnya sebagai “kebodohan yang dilembagakan”.
Seorang lulusan baru datang ke kantor dengan rasa bangga. IPK-nya tinggi, gelarnya sarjana. Tapi saat menghadapi dinamika kerja nyata, dia sering bingung. Ia menunggu instruksi, takut keliru, dan kesulitan berpikir mandiri. Ia berpikir bahwa setelah lulus, ia harus “menggunakan” ilmunya, bukan lagi “belajar” darinya.
Ini adalah jebakan umum: orang mengira bahwa pendidikan adalah proses yang punya ujung. Padahal, saat kita berhenti belajar, kita tidak sedang merayakan keberhasilan, melainkan menyambut kemunduran secara diam-diam.
Jacques Rancière dalam The Ignorant Schoolmaster menunjukkan bahwa belajar sejati tidak tergantung pada guru, metode, atau kurikulum formal. Ia menekankan bahwa setiap orang memiliki “kecerdasan yang setara”, dan proses belajar seharusnya terus berlangsung sebagai bentuk kemandirian berpikir. Maka ketika seseorang merasa tidak perlu belajar lagi karena sudah “diajar”, justru di situlah letak kebodohannya.
Neil Postman dalam The End of Education bahkan menantang sistem pendidikan modern yang lebih sibuk mencetak “pekerja siap pakai” daripada manusia berpikir. Ia menyebut bahwa ketika pendidikan hanya dianggap sebagai alat untuk mencari kerja, maka setelah mendapatkan pekerjaan, orang berhenti belajar karena “tujuan” telah selesai. Padahal tujuan sejati pendidikan adalah belajar terus menerus agar manusia bisa menilai, menimbang, dan memahami dunia secara mendalam.