12/05/2026
UMK Gelar Seminar Penguatan Kapasitas SDM dalam Kesiapsiagaan Bencana dan Implementasi K4L
Kudus — Universitas Muria Kudus menyelenggarakan seminar bertajuk “Penguatan Kapasitas SDM dalam Kesiapsiagaan Bencana serta Implementasi K4L” pada Selasa (12/05/2026), bertempat di Gedung M Universitas Muria Kudus. Kegiatan ini dibuka oleh Ketua Unit Pelaksana Teknik K4L Universitas Muria Kudus, Dr. Khamdun, S.Pd., M.Pd.
Seminar tersebut menghadirkan Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Kudus, Drs. Eko Hari Djatmiko, M.Si., sebagai pembicara utama. Dalam kesempatan tersebut, Drs. Eko Hari Djatmiko, M.Si. menyampaikan materi mengenai kesiapsiagaan Kabupaten Kudus dalam menghadapi bencana, termasuk pemetaan wilayah rawan bencana, kesiapan posko kedaruratan, ketersediaan peralatan dan armada, serta dukungan personel dan relawan dalam penanggulangan bencana.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Universitas Muria Kudus dalam memperkuat pemahaman dan kesiapan sumber daya manusia terhadap aspek Keamanan, Keselamatan, Kesehatan, dan Lingkungan (K4L), khususnya dalam menghadapi potensi bencana di lingkungan kampus maupun masyarakat sekitar. Melalui seminar ini, peserta diharapkan memiliki kesadaran yang lebih baik tentang pentingnya kesiapsiagaan, mitigasi risiko, serta prosedur respons cepat ketika terjadi keadaan darurat.
Dalam paparannya, dijelaskan bahwa bencana, merujuk pada Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007, merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan serta penghidupan masyarakat. Faktor penyebab bencana dapat berasal dari alam, non-alam, maupun sosial, dengan dampak berupa korban jiwa, kerugian harta benda, dan kerusakan lingkungan.
Paparan juga menyoroti potensi kerawanan bencana di Kabupaten Kudus. Wilayah rawan banjir mencakup Kecamatan Jati, Kaliwungu, Mejobo, Undaan, Jekulo, dan Bae, dengan total 6 kecamatan dan 33 desa terdampak serta sekitar 56.933 jiwa berpotensi terdampak banjir. Sementara itu, wilayah rawan longsor berada di Kecamatan Dawe dan Gebog, meliputi sejumlah desa seperti Colo, Piji, Ternadi, Kajar, Soco, Menawan, Rahtawu, dan Kedungsari, dengan sekitar 7.241 jiwa berpotensi terdampak longsor.
Selain pemetaan risiko, seminar turut membahas kesiapan sistem penanggulangan bencana. BPBD Kabupaten Kudus menyiapkan posko kedaruratan yang beroperasi 24 jam dengan sistem komando terpadu, posko kecamatan di wilayah rawan banjir dan longsor, serta integrasi pelaporan melalui grup komunikasi bersama perangkat desa, TNI, dan Polri. Titik pengungsian juga disiapkan di sekolah, balai desa, gedung serbaguna, dan tenda darurat dengan dukungan fasilitas dasar seperti toilet, air bersih, listrik, penerangan, dan dapur umum.
Dari sisi peralatan dan armada, kesiapsiagaan didukung oleh perlengkapan seperti 260 velbed, 93 tenda keluarga dan pengungsian, 15 chainsaw, 10 perahu evakuasi banjir, genset, lampu sorot, serta p***a air. BPBD Kudus juga memiliki armada siaga, antara lain mobil siaga, mobil komando, damkar, truk tangki, kendaraan pick-up logistik, dan motor trail. Kekuatan personel turut diperkuat oleh 45 personel inti BPBD, jaringan KENCANA kecamatan, 132 Desa Tangguh, 258 kader terlatih, serta lebih dari 350 relawan aktif dari berbagai unsur.
Melalui seminar ini, Universitas Muria Kudus menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, lembaga kebencanaan, dan masyarakat dalam membangun budaya sadar risiko. Implementasi K4L tidak hanya dipahami sebagai prosedur keselamatan kerja, tetapi juga sebagai sistem perlindungan yang perlu diterapkan secara konsisten dalam aktivitas akademik, pelayanan, dan kehidupan kampus.
Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesiapan civitas akademika Universitas Muria Kudus dalam menghadapi potensi keadaan darurat, memperkuat koordinasi kelembagaan, serta mendorong terciptanya lingkungan kampus yang aman, sehat, tangguh, dan responsif terhadap risiko bencana.