Pon-Pes Manba'ul huda

Pon-Pes Manba'ul huda SOPO SENG NGAJI BAKALE AJI

13/11/2021

عَنِ الْـمَرْءِ لاَ تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِيْنِهِ ۞
۞ فَكُلُّ قَرِيْنٍ بِالْـمُقَارَنِ يَقْتَدِيْ
Jawa: Jo takon songko wong siji takono kancane. Kerono sak temene kanca manut kang ngancani.
فَاِنْ كَانَ ذَا شَرٍّ فَجَنِّبْهُ سُرْعَةً ۞
۞ فَاِنْ كَانَ ذَا خَيْرٍ فَقَارِنْهُ تَهْتَدِيْ
Jawa: Yen ono konco olo lakone ndang dohono. Yen ono konco bagus enggal ndang kancanono.

Terjemah:
Janganlah engkau bertanya tentang kepribadian orang lain, lihat saja temannya, karena seseorang akan mengikuti apa yang dilakukan teman-temannya, bila temannya tidak baik maka jauhilah dia secepatnya, dan bila temannya baik maka temanilah dia, kamu akan mendapatkan petunjuk.

kesimp**anya..

Dalam mencari ilmu peran teman dan lingkungan sangat berpengaruh dalam keberhasilan dan kegagalan santri/pelajar menggapai cita-citanya, tidak sedikit santri/pelajar yang berpotensi akhirnya gagal hanya karena salah dalam pergaulan, maka kita harus pandai-pandai mencari teman bergaul, teman yang baik bukan teman yang selalu menuruti keinginanmu tapi teman yang baik adalah teman yang mau menunjukkan jalan benar ketika kamu salah, mendukung kamu ketika kamu benar, bersama kamu ketika kamu dalam kesulitan, dan merasa gembira ketika kamu senang.

Nah untuk mencari teman yang baik kamu hanya perlu melihat pergaulan dari orang yang akan kamu jadikan teman, bila teman pergaulannya baik temanilah dia, sebaliknya bila teman pergaulannya tidak baik hindarilah dia secepatnya, karena teman yang tidak baik bagaikan bara yang akan membakar kamu menjadi abu hancur lebur tidak ada gunanya, sementara teman yang baik bagaikan pupuk yang akan mengembangkan kemampuanmu dan mendorong kamu untuk memperoleh hasil semaksimal mungkin.

11/11/2021

بسم الله الرحمن الرحيم

lalaran adalah sumber pengingat ilmu bagi para santri...

اَلاَ لاَتَنَالُ الْعِلْمَ اِلاَّ بِسِتَّةٍ ۞
۞ سَأُنْبِيْكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانٍ
Jawa: Elingo ndak kasil ilmu anging nem perkoro. Bakal tak ceritaake kumpule kanti pertelo.
ذُكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍوَبُلْغَةٍ ۞
۞ وَاِرْشَادُ اُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ
Jawa: Rupane limpat, lubo, sabar, ono sangune. Lan piwulange guru lan sing suwe mangsane.

Terjemah:
Ingatlah, tidak akan kalian mendapatkan ilmu yang manfaat kecuali dengan 6 [enam] syarat, yaitu cerdas, semangat, sabar, biaya, petunjuk dari guru dan dalam waktu yang lama.

Penjelasanya:
Ilmu yang manfaaat adalah ilmu yang bisa menghantarkan pemiliknya pada ketaqwaan kepada Allah subhanahu wata'ala, ilmu adalah nur ilahi yang hanya diperuntukkan bagi hamba-hambanya yang shaleh, ilmu manfaat inilah yang tidak mungkin bisa di dapatkan kecuali dengan adanya 6 syarat yang harus di lengkapi para pencarinya, adapaun 6 syarat tersebut adalah:

[1] Cerdas, artinya kemampuan untuk menangkap ilmu, bukan berarti IQ harus tinggi, walaupun dalam mencari ilmu IQ yang tinggi sangat menentukan sekali, asal akalnya mampu menangkap ilmu maka berarti sudah memenuhi syarat pertama ini, berbeda dengan orang gila atau orang yang memang akalnya sudah tidak bisa menerima ilmu maka sulitlah mereka mendapatkan ilmu manfaat, namun perlu di ingat bahwa kecerdasan adalah bukan sesuatu yang tidak bisa meningkat, kalau menurut orang-orang tua, akal kita adalah laksana pedang, semakin sering diasah dan dipergunakan maka pedang tersebut akan semakin tajam, adapun bila didiamkan/tidak dipergunakan maka akan karatan dan tumpul, begitup**a akal kita semakin sering dibuat untuk berfikir dan mengaji maka akan semakin tajam daya tangkapnya dan bila di biarkan maka akan tumpul dan tidak akan mampu menerima ilmu dengan baik.

[2] Semangat, artinya sungguh-sungguh dengan bukti ketekunan, mencari ilmu tanpa kesemangatan dan ketekunan tidak akan menghasilkan apa-apa, ilmu apalagi ilmu agama adalah sesuatu yang mulia yang tidak akan dengan mudah bisa di dapatkan, oleh karenanya banyak orang mencari ilmu tapi yang berhasil sangat sedikit di banding yang tidak berhasil, kenapa? karena mencari ilmu itu sulit, apa yang kemarin di hafalkan belum tentu sekarang masih ingat, padahal apa yang di hafal kemarin masih berhubungan dengan pelajaran hari ini, ahirnya pelajaran hari inipun berantakan karena hilangnya pelajaran kemarin, maka tanpa kesemangatan dan ketekunan sangat sulit kita mendapatkan apa yang seharusnya kita dapatkan dalam tholabulilmi.

[3] Sabar, artinya tabah menghadapi cobaan dan ujian dalam mencari ilmu, orang yang mencari ilmu adalah orang yang mencari jalan lurus menuju penciptanya, oleh karena itu syetan sangat membenci pada mereka, apa yang di kehendaki syetan adalah agar tidak ada orang yang mencari ilmu, tidak ada orang yang akan mengajarkan pada umat bagaimana cara beribadah dan orang yang akan menasehti umat agar tidak tergelincir kemaksiatan, maka syetan sangat bernafsu sekali menggoda pelajar agar gagal dalam pelajarannya, digodanya mereka dengan s**a pada lawan jenis, dengan kemelaratan, dan lain-lain.

[4] Modal/Biaya, artinya orang mengaji perlu biaya seperti juga setiap manusia hidup yang memerlukannya, tapi jangan di faham harus punya uang apalagi uang yang banyak, biaya disini hanya kebutuhan kita makan minum sandang dan papan secukupnya, pun tidak harus merupakan bekal materi, dalam sejarah kepesantrenan dari zaman sahabat nabi sampai zaman ulama terkemuka kebanyakan para santrinya adalah orang-orang yang tidak mampu, seperti Abu hurairoh sahabat Nabi seorang perawi hadist terbanyak adalah orang yang sangfat fakir, imam syafi’i adalah seorang yatim yang papa, dan banyak lagi kasus contohnya, biaya disini bisa dengan mencari sambil khidmah atau bekerja yang tidak mengganggu belajar.

[5] Petunjuk guru, artinya orang mengaji harus digurukan tidak boleh dengan belajar sendiri, ilmu agama adalah warisan para nabi bukan barang hilang yang bisa dicari di kitab-kitab, dalam sebuah maqalah [saya tidak tahu apakah ini hadits atau sekedar kata-kata ulama] barang siapa belajar tanpa guru maka gurunya adalah syetan, dan ada p**a maqalah لقال من قال بماشاء السند لولا andai tidak ada sanad [pertalian murid dan guru] maka akan berkata orang yang berkata [tentang agama] sekehendak hatinya. Kita bisa melihat sejarah penurunan wahyu dan penyampaiannya kepada para sahabat, betapa Nabi setiap bulan puasa menyimakkan Al-Qur’an kepada jibril dan sebaliknya, kemudian Nabi menyampaikan kepada para sahabat, sahabat menyampaikan kepada para tabi’in, lalu para tabi’in menyampaikan pada tabi’i at-tabi’in dan seterusnya kepada ulama salaf, lalu ulama kholaf, lalu ulama mutaqoddimin lalu ulama muta’akhirin dan seterusnya sampai pada umat sekarang ini, jadi ilmu yang kita terima sekarang ini adalah ilmu yang bersambung sampai Nabi dan sampai kepada Allah subhanahu wa ta’ala, jadi sangat jelas sekali bahwa orang yang belajar harus lewat bimbingan seorang guru, guru yang bisa menunjukkan apa yang dikehendaki oleh sebuah pernyataan dalam sebuah ayat atau hadis atau ibarat kitab salaf, karena tidak semua yang tersurat mencerminkan apa yang tersirat dalam pernyatan.

[6] Lama, artinya orang belajar perlu waktu yang lama, tidak instan, karena semua butuh proses. Lama disini juga bukan berarti tanpa target, sebab orang belajar harus punya target, tanpa target akan hampa dan malaslah kita belajar.

waliyuttaufiq..

*YANG BERJUBAH BELUM TENTU SHALIH*Tatkala Nabi Daud sedang memberikan pelajaran akhlak kepada murid-muridnya, masuklah s...
30/10/2021

*YANG BERJUBAH BELUM TENTU SHALIH*

Tatkala Nabi Daud sedang memberikan pelajaran akhlak kepada murid-muridnya, masuklah seorang laki-laki memakai jubah putih dan menyebarkan bau wangi.
Laki-laki berjenggot itu mengucapkan salam kepada Nabi Daud, tetapi Nabi Daud tidak peduli, apalagi menjawab salamnya.
la terus menyampaikan pelajarannya tanpa melirik sedikit pun kepada tamu yang baru tiba itu.

Laki-laki tersebut lantas mengerjakan sembahyang sesuai dengan syariat yang berlaku pada waktu itu.
Setelah melaksanakan rukuk dan sujud, laki-laki itu mengangkat kedua tangannya dan berdoa.

Nabi Daud tetap melanjutkan wejangan-wejangannya tanpa memberi kesempatan kepada tamu itu untuk berkenalan, atau para muridnya mengambil perhatian kepadanya.
Semua murid Nabi Daud merasa tidak enak di depan laki-laki asing tadi, dan menganggap Nabi Daud tidak memberikan contoh yang baik.

Pria berjubah bersih tersebut terdengar menangis tersedu-sedu ketika berdoa.
Sesudah itu ia berdiri, lalu keluar dari majelis tempat peribadatan mereka setelah meminta diri dengan mengucapkan salam.
Namun Nabi Daud tetap tidak menaruh hormat sama sekali.
Semua murid Nabi Daud sangat iba melihat nasib tamu yang malang barusan.

Maka sesudah Nabi Daud mengakhiri pelajaran tentang akhlak yang baik, salah seorang dari mereka mengajukan pertanyaan.

_”Wahai, Nabiyullah. Saya ingin bertanya.”_

_”Tanyalah,”_
jawab Nabi.

_”Bukankah engkau mengajarkan kepada kami untuk menghormati tamu?”_

_”Betul.”_

_”Tetapi mengapa engkau tadi tidak memperlihatkan akhlak terpuji kepada tamu?”_

_”Sebab dia tidak tahu budi pekerti. Apakah kalian tidak ingat bagaimana caranya memasuki majelis tatkala guru sedang mengajar? Mula-mula kaki kanan melangkah lebih dulu sebagai tanda menghormati majelis kita. Kemudian tidak seharusnya dia mengucapkan salam, melainkan langsung duduk dan ikut mendengarkan.”_

_”Barangkali dia belum tahu tata caranya?”_

_"Tapi jubah dan surbannya menunjukkan seolah-olah dia orang alim, bukan? Apakah pantas kalau dia orang alim tidak mengetahui sopan santun memasuki tempat peribadatan dan tempat mengajar?"_
sanggah Nabi Daud.
_"Orang seperti itulah yang akan menjatuhkan agama kita, karena tidak sesuai antara penampilan dengan sikapnya."_

_"Tapi tadi dia sembahyang lama sekali,"_
sahut si murid.

_"ltulah tanda kepalsuannya. Ia hanya ingin memamerkan kesalihannya, padahal dia bukan orang baik. Ia sembahyang buat kita, tidak buat Tuhan."_

_"Ia berdoa panjang sambil menangis."_

_"Apakah doa yang panjang menjamin keikhlasan? Bukankah Tuhan lebih menyukai doa yang khusuk dan yakin? Kalu ia ingin menangis, tidak selayaknya di depan kita. Menangislah yang sedih di depan Tuhan ketika sendirian, dalam sembahyang malam pada waktu orang Iain tengah lelap dan tidak melihat tangisnya.”_

_"Wajahnya mulus sekali seperti orang yang ikhlas. Pakaiannya serba putih melambangkan warna hatinya. Apakah ia bukan orang yang takwa?"_

_"Takwa tidak dilihat dari rupanya, juga tidak dilihat dari pakaiannya. Tuhan hanya melihat hati manusia, dan dinilai dari perbuatannya, sesuai atau tidak dengan syariat dan adab agama. Manusia tidak dihargai dari bungkusnya, melainkan dari isinya, dari mutu kemanusiaannya."_

Dengan penjelasan tersebut mengertilah murid-murid Nabi Daud bagaimana seharusnya menghayati agama dengan menjalankan semua ketentuannya, tidak sekadar membangga-banggakan melalui ucapan dan pernyataan.

~°•°~

Sumber: Gus Zimam Hanif

pemberitahuan kepada seluruh santri PPMH nanti malam kita akan memperingati maulid nabi muhammad SAW..semoga kita semua ...
18/10/2021

pemberitahuan kepada seluruh santri PPMH nanti malam kita akan memperingati maulid nabi muhammad SAW..semoga kita semua bisa menghadirinya..
acara ba'da maghrib..

Alhamdulillah...barokallah...
26/09/2021

Alhamdulillah...
barokallah...

pembacaan istighotsah oleh Kh samsul arifin...bersama santri PN PPMH ....
01/09/2021

pembacaan istighotsah oleh Kh samsul arifin...bersama santri PN PPMH ....

16/07/2021

NABI MUSA SAKIT GIGI
Sebuah hikayat menyebutkan, satu hari Nabi Musa as mengeluhkan sakit giginya kepada Allah swt.
"Carilah olehmu rumput ini, lalu letakkan di gigimu yg sakit!" Firman Allah swt menjawab keluh Musa as.
Nabi Musa as menjalankan titah Tuhan-nya itu. Ajaib, seketika p**a sakit giginya sirna.
Selang beberapa hari, Nabi Musa as resah lagi. Sakit giginya kambuh. Maka berbekal pengalamannya tempo hari, ia bergegas mencari rumput yg dimaksud. Kemudian meletakkannya di gigi yg meradang. Musa as heran. Alih-alih reda dan sembuh. Sakit giginya malah makin parah.
Berbeda dengan lirik lagu Meggy Z yang memilih sakit gigi daripada sakit hati, Nabi Musa as mendapatkan keduanya sekaligus. Ia sakit hati sebab sakit giginya tak kunjung pergi.
Tak kuasa lagi menanggungnya, Musa as pada akhirnya meminta bantuan Rabb-nya.
"Duhai Ilahi, bukankah tempo hari Engkau sendiri yg menunujukiku obatnya?"
"Rumputnya sama, step-stepnya sama, bahkan dosisnya juga persis sama. Apa yg berbeda? Kenapa sakitku tak sembuh jua?"
"Hai Musa, dengarkan ini baik-baik! Akulah yang Maha Menyembuhkan. Akulah yang Maha Menyehatkan. Hanya Aku yang bisa memberi madarat, dan hanya Aku p**a yg memberi manfaat." Kata Allah swt.
"Pada kali pertama sakitmu, kamu datang kepada-Ku. Memohon dan meminta-Ku. Maka mudah bagi-Ku menyembuhkanmu."
"Tapi kali ini berbeda, kau tak datang kepada-Ku. Kau mulai menaruh harapan pada yang lain. Kau bersandar pada rumput. Pada obat."
Nabi Musa as bergeming. Ia menyadari kesalahan. Menginsyafi kekeliruannya.
Disarikan dari kitab Nur azh-Zhalam Syarh Aqidah al-'Awam, Syaikh Nawawi al-Bantani, hal 29.

sopo seng ngaji bakale aji....TPQ.MTQ MH .MDS MH...
04/07/2021

sopo seng ngaji bakale aji....
TPQ.MTQ MH .MDS MH...

kegiatan santri MTQ MH..ngalap barokah pada hari jumat...
02/07/2021

kegiatan santri MTQ MH..ngalap barokah pada hari jumat...

29/06/2021

Address

Assalam
Lubuklinggau

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pon-Pes Manba'ul huda posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share