22/05/2018
Nama : Imelda Taawoeda
Kelas : Sistematika A
Nim : 1702221
ARTIKEL TENTANG
“ PERAN JURNALISTIK DALAM GEREJA?”
Secara etimologis, Jurnalistik berasal dari kata journ. Dalam bahasa perancis, journ berarti catatan atau laporan harian. Secara sederhana jurnalistik diartikan sebagai kegiatan yang berhubungan dengan pencatatan atau pelaporan setiap hari. Dengan demikian juranlistik bukanlah pers bukan p**a massa. Jurnalistik adalah kegiatan yang memungkinkan pers atau media massa bekerja dan diakui eksistensisnya dengan baik. Secara konseptual Jurnalistik dapat dipahami dari tiga sudut pandang, yakni sebagai proses, teknik dan ilmu.
• Sebagai proses, jurnalistik adalah aktivitas mencari mengolah menulis dan menyebarluaskan informasi kepada publik melalui media maassa. Aktivitas ini dilakukan oleh wartawan atau jurnalis.
• Sebagai teknik, jurnalistik adalah keahlian atau keterampilan membuat karya jurnalistik termasuk keahlian dalam pengump**an bahan pemberitaan seperti peliputan peristiwa atau reportase dan wawancara.
• Sebagai ilmu, jurnalistik adalah bidang kajian mengenai pembuatan dan penyebarluasan informasih melalui media massa.
Selain itu, jurnalistik termasuk bidang kajian ilmu komunikasi, yakni ilmu yang mengkaji proses penyampaian pesan, gagasan, pemikiran, atau informasi kepada orang lain dengan maksud memeberitahu, mempengaruhi, atau memberikan kejelasan.
Komunikasi memiliki peranan penting dalam interaksi manusia. Komunikasih tidak hanya menolong manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tetapi juga berpengaruh dalam pembentukan budaya manusia. Secara teologi, komunikasi dipahami lebih mendalam. Dalam perkembanganya, menusia kemudian menciptakan berbagai media komunikasi yang semakin mempermudah proses komunikasi tersebut. Dalam perkembangan media komunikasi ini, gereja ikut serta membudidayakan media tersebut dalam praktek pelayananya. Secara khusus media elektonik yang sangat berkembang saat ini, gereja membudidayakan untuk menfasilitasi pertumbuhan iman umat. Namun tabisa dipungkiri bahwa setiap bentuk media komunikasi khususnya elektronik, memilki dampak positif dan negatif. Didalam prspektif kristen, era informasi dan teknologi merupakan peluang untuk mewujudkan secara maksimal berita keselamatan yang dinyatakannya dalam Yesus Kristus. Maka kemajuan teknologi adalah potensi yang terbuka untuk untuk dikembangkan bagi kepentingan pelayanan gereja. Melihat keadaan hidup manusia pada era informatika, gereja harus secara proaktif dalam tugas dan pelayananya.
Dengan demikian kemajuan teknologi informatika tidak hanya berpengaruh terhadap dunia, termasuk gereja dan orang-orang Kristen. Gereja perlu mengadopsi nilai-nilai yang baik yang diperoleh dari informatika dan mengkomunikasikanya kedalam kehidupan bergereja. Memang disatu sisi perkembangan teknologi informatika ada yang bersifat destruktif terhadap pelayanan dan kehadiran gereja. Disisi lain, perkembangan teknologi informatika dapata menjadi suatu peluang untuk mengembangkan suatu pelayanan gereja. Melalui teknologi informatika, kelemahan-kelemanah dan hambatan untuk meningkatkan efektivitas dan peningkatan pelayanan dapat teratasi. Salah satu hal positif dari perkembangan informatika adalah munculnya rasa tanggung jawab secara individual terhadap gereja. Hendaknya gereja menjadi tempat terbuka bagi siapa saja baik pribadi maupun keluarga warga jemaat, untuk bersekutu dan melayani sesuai dengan talenta yang dimilikinya masing-masing. Melihat keadaan hidup manusia pada era informatika, gereja harus proaktif memanfaatkan alat-alat informasi dalam pelayanan. Misalnya: dalam membentuk program pelayanan maka para pelayan harus menjadi orang yang dibangun atau yang mampu memanfaatkan alat-alat informasi tanpa menghilangkan system komunikasi tradisioanal.
Ada dua kemungkinan sikap gereja terhadap perkembangan dan informasih yaitu:
1. Gereja yang eklusif: gereja yang tertutup terhadap informasi dan komunikasi beserta alat-alat atau media informasi. Pemeberitaan injil, khotbah dan pengajaran iman Kristen hanya melalui komunikasi tradisional yaitu dengan pengajaran verbal.
2. Gereja yang inklusif: ada gereja yang terbuka terhadap informasi dengan melakukan program pelayanan yang memanfaatkan saran-saran informasi yang ada. Dalam setiap pelayanan selalu menggunakan berbagai data untuk menyebarkan pengajaran iman Kristen dan berita Alkitab.
Sikap gereja yang kita harapkan ialah dengan terbuka menerima informasih tersebut sekalipun harus diakui bahwa setiap informasi dapat berdampak destruktif (merusak) sekaligus dapat juga bersifat membangun (konstruktif). Namun justru kedua sifat itu dalam informasi dapat berfungsi sebagai pengarah program pelayanan (planning direction). Dengan melihat sisi positif dan negative sebaik-baiknya sebab melalui saran dan prasarana informasi, kelemahan-kelemahan pelayanan dan hambatan-hambatan yang ditemukan dapat teratasi. Gereja melalui pelayananya juga harus mampu hadir ditengah-tengah jemaat sesuai dengan perilaku atau pribadi yang terjadi dalam jemaat. Dengan demikian pelayanan gereja di era informasi dan komunikasi seefisien dan seefektif mungkin. Hendaknya gereja menggunakan media massa menjadi kekuatan dalam peluang PI. Kekuatan media massa memiliki peluang untuk mengkontruksi realitas yang sangat besar. Memberdayakan media alternative yang lazim dikenal sebagai media komunitas seperti teater rakyat, gondang, drama, poster, selebaran, forum diskusi, dan folkomedia dalam bentuk sastra rakyat seperti pantun, teka-teki, syair, tarian dan nyanyian. Dari pembahasan diatas saya menyimpuklan bahwa jurnalistik/media massa sangat dibutuhkan peranannya dalam gereja karna jurnalistik dapat membantu serta dapat mempermudah greja dalam proses pelayanan.
Sekian artikel saya tentang peran jurnalistik dalam gereja semoga dapat bermanfat untuk kita semua. Saya Imelda Taawoeda mengucapkan banyak trimakasih.