Center for Plasma Research

Center for Plasma Research Pusat riset sains dan teknologi plasma. Riset meliputi riset dasar dan terapan antara lain: lingkungan, pertanian, kesehatan, energi, tekstil

DARI PARADOKS KUCING SCHRöDINGER  KE PARADOKS KEKUASAAN: sebuah lamunan senja Catatan: Muhammad NurParadoks ini lahir da...
02/03/2025

DARI PARADOKS KUCING SCHRöDINGER KE PARADOKS KEKUASAAN:
sebuah lamunan senja
Catatan: Muhammad Nur
Paradoks ini lahir dari dunia mekanika kuantum, di mana realitas tidak selalu berjalan sesuai dengan intuisi kita. Schrödinger, seorang ilmuwan brilian, menciptakan eksperimen pikiran ini pada tahun 1935 untuk mengkritik interpretasi Kopenhagen dalam mekanika kuantum. Menurut interpretasi tersebut, sebuah partikel kuantum bisa berada dalam beberapa keadaan sekaligus—sebuah konsep yang dikenal sebagai superposisi. Hanya ketika seseorang mengamati atau mengukur partikel tersebut, barulah ia "memilih" satu keadaan tertentu.
Dalam eksperimen imajinatif Schrödinger, sebuah kucing ditempatkan di dalam kotak tertutup bersama dengan sebuah mekanisme yang terhubung ke atom radioaktif. Jika atom itu meluruh, mekanisme akan memecahkan botol yang berisi racun, membunuh kucing. Tetapi jika atom tidak meluruh, kucing tetap hidup. Karena dalam dunia kuantum, peluruhan atom mengikuti prinsip probabilitas dan berada dalam keadaan superposisi, maka—sebelum ada yang membuka kotak dan mengamati isinya—kucing tersebut juga berada dalam superposisi: ia hidup sekaligus mati dalam satu waktu.
Kekuasaan sering kali dipandang sebagai simbol dominasi, kendali, dan ketangguhan. Namun, di balik citra megah yang melekat padanya, tersembunyi paradoks yang mengungkap sisi rapuh dari kekuasaan itu sendiri. Semakin besar kekuasaan yang dimiliki seseorang atau suatu entitas, semakin besar p**a ketergantungannya pada berbagai faktor eksternal. Fenomena ini terlihat jelas dalam “paradoks ketergantungan”, di mana seorang pemimpin yang tampaknya kuat justru membutuhkan dukungan rakyat, militer, atau elite politik agar dapat mempertahankan kekuasaannya. Tanpa dukungan tersebut, kekuasaannya hanya seperti istana pasir yang sewaktu-waktu bisa runtuh diterjang gelombang perubahan.
Namun, mendapatkan dan mempertahankan dukungan bukanlah hal yang mudah. Dalam upaya menjaga kekuasaannya, seorang pemimpin mungkin tergoda untuk menggunakan cara-cara represif, menekan kebebasan, atau mengabaikan suara rakyat. Sayangnya, tindakan semacam ini justru dapat menjadi bumerang, sebagaimana dijelaskan dalam “paradoks legitimasi”. Semakin keras kekuasaan digunakan untuk mengontrol, semakin berkurang legitimasinya. Ketika pemimpin kehilangan kepercayaan publik, kekuasaan yang dulu tampak kokoh bisa runtuh dalam sekejap. Sejarah telah mencatat bagaimana berbagai rezim yang menindas akhirnya tumbang oleh gelombang perlawanan yang lahir dari ketidakpuasan rakyat.
Lebih dari sekadar persoalan legitimasi, kekuasaan juga menyimpan paradoks dalam ketahanannya. “Paradoks ketahanan” menunjukkan bahwa sebuah negara atau pemimpin yang tampak kuat dari luar bisa jadi memiliki kelemahan mendasar di dalamnya. Ketergantungan pada kontrol yang ketat sering kali menciptakan lingkungan yang kaku dan tidak siap menghadapi perubahan. Rezim otoriter, misalnya, tampak stabil selama kontrol tetap ada, tetapi ketika celah mulai terbuka, runtuhnya bisa terjadi dengan sangat cepat dan dramatis.
Di dunia bisnis dan inovasi, kekuasaan juga menghadapi tantangan serupa. “Paradoks inovasi dan kontrol” menggambarkan bagaimana kepemimpinan yang terlalu dominan justru menghambat kemajuan. Semakin besar kontrol yang diberikan kepada seorang pemimpin, semakin kecil ruang untuk ide-ide baru berkembang. Perusahaan yang terlalu birokratis dan tidak fleksibel cenderung tertinggal oleh pesaing yang lebih adaptif. Sejarah bisnis telah membuktikan bahwa banyak perusahaan raksasa runtuh bukan karena kekurangan sumber daya, melainkan karena kegagalan mereka dalam beradaptasi dengan perubahan zaman.
Lebih dalam lagi, kekuasaan sering kali menghadapkan manusia pada ujian moralitas. “Paradoks kekuasaan dan moralitas” menunjukkan bagaimana kekuasaan dapat mengubah karakter seseorang, bahkan mereka yang awalnya memiliki niat baik. Godaan untuk menyalahgunakan kekuasaan, mengambil keputusan demi kepentingan pribadi, atau melanggar etika demi mempertahankan posisi bisa menjadi awal dari kehancuran. Korupsi kekuasaan tidak hanya merusak individu yang berkuasa, tetapi juga menular ke sistem yang lebih luas, menciptakan lingkungan yang dipenuhi ketidakadilan dan ketidakpercayaan.
Paradoks-paradoks ini mengajarkan kita bahwa kekuasaan bukan sekadar tentang menguasai, tetapi juga tentang bagaimana mengelolanya dengan bijaksana. Seorang pemimpin sejati bukanlah mereka yang sekadar memegang kendali, tetapi mereka yang memahami bahwa kekuatan terbesar dalam kekuasaan terletak pada kemampuannya untuk tetap rendah hati, terbuka terhadap perubahan, dan mampu mempertahankan legitimasi tanpa mengorbankan prinsip moral. Sebab pada akhirnya, kekuasaan yang bertahan lama bukanlah yang dibangun di atas ketakutan dan kontrol semata, melainkan yang berakar pada kepercayaan, kebijaksanaan, dan keadilan.

TEKNOLOGI PLASMA DAN OZON UNTUK KETAHANAN DAN KEAMANAN PANGANCenter for Plasma Research, Fakultas Sains dan Matematika U...
02/03/2025

TEKNOLOGI PLASMA DAN OZON UNTUK KETAHANAN DAN KEAMANAN PANGAN
Center for Plasma Research, Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro akan melaksanakan FGD pada tanggal 28 Februari 2025 dengan topik seperti judul diatas. Catatan dibawah ini sebagai pengantar. Semoga pengantar itu memberikan ketertarikan kita untuk mulai melirik teknologi plasma dan Ozon yang dikenal lebih ramah lingkungan untukdimanfaatkan bagi ketahanan dan keamanan pangan.
Catatan: Muhammad Nur
Ketahanan pangan bukan sekadar memastikan ketersediaan makanan, tetapi juga mencakup akses yang aman, bergizi, dan berkelanjutan bagi masyarakat. Dalam dunia yang semakin menghadapi tantangan seperti perubahan iklim, peningkatan pop**asi, serta penyebaran penyakit melalui makanan, teknologi menjadi kunci utama dalam mencari solusi inovatif. Salah satu teknologi yang kini mulai mendapatkan perhatian adalah teknologi plasma dan ozon, sebuah pendekatan berbasis fisika yang menjanjikan revolusi dalam ketahanan dan keamanan pangan.
Teknologi plasma bekerja dengan memanfaatkan spesies oksigen dan nitrogen reaktif (Reactive Oxygen and Nitrogen Species, RONS) yang dihasilkan oleh plasma dingin bertekanan atmosfer. RONS ini memiliki kemampuan luar biasa dalam membunuh mikroorganisme berbahaya, menurunkan residu pestisida, serta memperpanjang umur simpan produk hortikultura. Dengan kata lain, plasma tidak hanya meningkatkan keamanan pangan, tetapi juga mendukung pengurangan limbah dan pemborosan makanan yang menjadi isu global.
Salah satu aplikasi utama teknologi plasma adalah dalam dekontaminasi mikroba. Mikroorganisme seperti bakteri dan virus yang sering kali menjadi penyebab penyakit bawaan makanan dapat diinaktivasi melalui interaksi dengan plasma. Berbeda dengan metode sterilisasi konvensional yang sering menggunakan bahan kimia berbahaya, plasma memberikan alternatif yang lebih ramah lingkungan dan tidak meninggalkan residu beracun. Oleh karena itu, teknologi ini sangat sesuai untuk diterapkan dalam industri pangan, khususnya dalam proses pencucian dan pengawetan produk segar seperti buah dan sayur.
Selain itu, penggunaan plasma dan ozon dalam degradasi pestisida juga menjadi perhatian utama dalam dunia pertanian modern. Selama ini, banyak produk hortikultura mengandung residu pestisida yang dapat berdampak negatif bagi kesehatan manusia. Plasma mampu memecah struktur kimia pestisida menjadi senyawa yang lebih aman, sehingga produk yang dikonsumsi menjadi lebih higienis dan sehat. Keunggulan ini menjadikan plasma sebagai teknologi yang potensial dalam mendukung pertanian organik dan meningkatkan nilai tambah bagi petani.
Implementasi teknologi plasma di tingkat industri telah dilakukan di berbagai tempat, termasuk di sentra pertanian cabai di Kabupaten Batu Bara. Para petani di sana mulai menerapkan pencucian cabai menggunakan air yang diperkaya dengan ozon dari plasma mikro dan nano-bubble. Hasilnya, cabai tidak hanya lebih bersih dari kontaminan mikroba, tetapi juga lebih tahan lama selama penyimpanan, sehingga nilai jualnya meningkat. Dengan kata lain, teknologi ini tidak hanya memberikan manfaat bagi konsumen, tetapi juga membantu meningkatkan kesejahteraan petani melalui peningkatan nilai tukar hasil pertanian.
Dalam jangka panjang, penggunaan teknologi plasma dalam ketahanan pangan berpotensi menjadi standar baru dalam industri pertanian dan pangan. Dengan manfaatnya yang luas, mulai dari pengurangan risiko penyakit, peningkatan masa simpan, hingga pengurangan ketergantungan pada bahan kimia, plasma dapat menjadi bagian dari strategi global untuk menghadapi tantangan pangan di masa depan. Kini, tantangan terbesar adalah memperluas penerapannya dan memastikan bahwa inovasi ini dapat diakses oleh lebih banyak pihak, dari petani hingga industri makanan skala besar.
Seiring dengan perkembangan teknologi, plasma dan ozon bukan lagi sekadar konsep di laboratorium, tetapi telah menjadi solusi nyata dalam mewujudkan sistem pangan yang lebih aman, sehat, dan berkelanjutan. Center for Plasma Research, FSM, Undip telah berhasil mengenalkan dan menyebarluaskan teknologi ini. Dengan terus berkembangnya penelitian dan implementasi di lapangan, tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa plasma dan ozon adalah teknologi masa depan dalam ketahanan dan keamanan pangan.

DERAP PENA ITU MEMASUKI UNIVERSITAS KELAS DUNIA DI PARISCatatan: Muhammad Nur===========================================...
07/07/2024

DERAP PENA ITU MEMASUKI UNIVERSITAS KELAS DUNIA DI PARIS

Catatan: Muhammad Nur
===========================================
“Derap Pena itu sedang menjadi “karya yang bermakna” untuk ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. Tak salah Fakultas Sains Matematika Universitas Diponegoro membuat slogan di depan kampusnya secara permanen, Discover Manage and Give the Best”
===========================================

Namanya Derap Pena. Unik memang. Nama lengkap lulusan sarjana Fisika Universitas Diponegoro itu adalah Derap Pena Mukti Sari. Prestasinya di program studi Fisika tidaklah istimewa. Yang istimewa dari mahasiswi yang mudah tersenyum ini adalah minatnya di bidang fisika plasma dan fusi nuklir. Dia bersama beberapa temannya saya rekomendasi mengikuti The ASEAN School on Plasma and Nuclear Fusion. Derap Pena menjadi peserta school tersebut sebanyak dua kali.
1.The 8Th ASEAN School on Plasma and Nuclear Fusion and SOKENDAI
Asian School’ (29 Mei – 2 Juni 2023), Srinakharinwirot University, Thailand.
2.The 9 The ASEAN School on Plasma and Nuclear Fusion (15 – 19 Januari 2024),
Electricity Generating Authority (EGAT), Thailand.

Memulai Fusi Nuklir
Derap Pena mulai mempelajari plasma tokamak di kelas saya.ASEAN School on Plasma and Nuclear Fusion rupanya memberikan ketertarikan khusus baginya. Skripsinya yang berjudul “Kajian Fase Lucutan Plasma Hidrogen pada Reaktor Tokamak Golem”. Itu kajian plasma tokamak. Inilah dasar-dasar fusi nuklir. PLTN Fusi yang belum terealisasi di dunia. Energi dari reaksi penggabungan inti atom ringan seperti yang terjadi di matahari dan bintang-bintang. Reaktor Tokamak Golem sendiri berada di Check Republic di Praha. Data-data dari Golem dapat ditarik secara online jika Golem sedang dioperasikan. Ketertarikannya pada sains dan teknologi Plasma menghantarkan Derap bergabung dengan Center for Plasma Research yang kami dirikan pada tahun 2005. Sebuah pusat kajian Plasma yang cukup menonjol di tanah air. Pusat riset ini juga sdh cukup dikenal dalam komunitas sejenis. Pusat ini telah menghasilkan empat produk komersial dan sebuah perusahaan spin off business.
Memasuki Universitas kelas dunia.
Mahasiswi yang dilahirkan di Ogan Komering Ulu, Sumatra Selatan, pada 10 Februari 2002 tersebut memang mempunyai keinginan maju yang luar biasa. Program sarjananya yang diselesaikan selama 3,5 tahun dengan skripsi yang tidak biasa. Topik sulit dan sangat prospek di masa depan. Bulan Januari dan Februari tahun 2024 saya berkali kali memberi rekomendasi untuk Derap agar dapat mendaftar ke berbagai perguruan tinggi. Khususnya Perancis. Negeri tersebut yang kini menjadi pusat penelitian dunia tentang fusi nuklir. Di Selatan Perancis, Cadarache merupakan pusat terbesar penelitian teknologi di Eropa.International Tehermonuclear Experiment Reactor (ITER) berada disana. Para peneliti dari seluruh dunia bidang Fusi Nuklir sedang menuntaskan penelitian ITER disana. Itulah epicentrum teknologi energi masa depan. Mencontoh reaksi fusi yang terjadi di Matahari. Keberuntungan dan rezeki dari Allah tak akan tertukar. Man jadda wajadda. Barang siapa bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil. Surat dari Presiden Universite Paris-Saclay (UPS) bertanggal 14 Juni 2024 diterima Derap. Dia resmi akan menjadi mahasiswa di Universitas kelas dunia tersebut. Jurusan Fisika di UPS urutan 14 dunia versi QS. Secara keseluruhan Universite Paris-Saclay menempati urutan 71 dunia versi QS. Dalam surat tersebut dipertegas bahwa Derap harus tiba di Paris pad tanggal 29 Agustus 2024 dan mulai kuliah di Master 1 bidang Fisika (bahasa pengantar adalah bahasa Inggris) pada tanggal 02 September 2024. Menariknya lagi derap dibiayai seluruhnya oleh pemerintah Prancis melalui Bourse Gouvernement de la France (BGF). Pada tahun 2022, Fisikawan Alain Aspect, dosen pada jurusan fisika UPS mendapatkan hadiah nobel bidang fisika tentang Keterjeratan Kuantum (Quantum Entanglment). Alhamdulillah, lulusan Fisika Undip sudah mulai mendapat perhatian dari Universitas hebat yang banyak menyumbangkan pemenang Nobel. Saya teringat ketika mengikuti kuliah dari Alain Aspect hampir 30 tahun lalu di Polygone Scientific Grenoble, sebuah kota berkumpulnya pusat-pusat riset dunia. Waktu itu belum banyak eksperimen yang berarti tentang keterjeratan kuantum ini, namun banyak yang meramalkan bahwa Alain akan memberikan torehan khusus tentang ilmu pengetahuan di dunia.
Peluang bagi Fakultas Sains dan matematika Undip
Diterimanya Derap Pena Mukti Sari di Universite Paris Saclay memberikan semangat baru dan terbarukan di departemen fisika Universitas Diponegoro. Salah satu lulusannya diterima di Universitas ranking atas dunia dan di Departemen Fisika ranking 14 dunia. Peluang menjalin kerjasama semakin terbuka. Bagi Fakultas dan Universitas akan bisa meningkatkan indikator kinerja universitas (IKU) jika terjalin kerja sama antara UPS dan Undip. Peluang memang tak datang berkali-kali. Sekecil apapun peluang tersebut perlu disyukuri dengan baik dan harus dipelihara dengan hati-hati untuk kemaslahatan bagi semuanya, juga bagi bangsa. Dalam tulisan singkat ini saya sebagai pembimbing mengharap doa dari sivitas akademika agar Derap berhasil dengan baik sebagai mahasiswa di UPS. Derap Pena itu sedang menjadi “karya yang bermakna” untuk ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. Tak salah Fakultas Sains Matematika Universitas Diponegoro membuat slogan di depan kampusnya secara permanen, Discover Manage and Give the Best. Semoga.
Muhammad Nur, Semarang, 6 Juli 2024,

Catatan: Muhammad Nur “Derap Pena itu sedang menjadi “karya yang bermakna” untuk ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. Tak salah Fakultas Sains dan Matemat

https://teachingindustry.undip.ac.id/index.php/2021/12/03/generator-mikro-nano-bubble-ozon-untuk-mengurangi-pestisida-pa...
04/12/2021

https://teachingindustry.undip.ac.id/index.php/2021/12/03/generator-mikro-nano-bubble-ozon-untuk-mengurangi-pestisida-pada-sayur-dan-buah-sebagai-usaha-menurunkan-tingkat-prevalensi-stunting-di-indonesia/

Generator Mikro-Nano Bubble Ozon untuk Mengurangi Pestisida pada Sayur dan Buah sebagai usaha Menurunkan Tingkat
Prevalensi Stunting di Indonesia

PRN Stunting oleh Tim Peneliti CPR

Stunting merupakan masalah kondisi tubuh anak yang pendek. Kondisi ini sangat dipengaruhi oleh faktor perilaku dan lingkungan (sosial, ekonomi, budaya, politik), dan pelayanan kesehatan. Melihat penyebab terbesar itu terkait dengan prilaku maka masalah stunting pada prinsipnya bisa dicegah. Stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia. Masalah ini tak hanya menggangu pertumbuhan fisik seorang anak (bertubuh pendek/kerdil), tetapi juga menggangu pertumbuhan otak. Klaziman Pengerdilan (Prevalence Stunting) ini akan berkelanjutan pada lemahnya kemampuan kreativitas dan produktivitas ketika dewasa. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa pemakaian pestisida yang berlebihan menyebabkan stunting tersebut. Hasil studi selama 2017, beberapa peneliti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Undip, melakukan penelitian efek pestisida terhadap stunting di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Daerah penghasil bawang merah itu merupakan pengguna pestisida tertinggi di Indonesia, bahkan disebut tertinggi di Asia Tenggara. Para peneliti menemukan bahwa paparan pestisida menjadi salah satu faktor terjadinya stunting pada anak-anak sekolah dasar di sana. Faktor risiko anak yang terpapar pestisida 3,9 kali lebih besar dibanding anak yang tak terpapar pestisida. Dalam penelitiannya Kartini dkk, 2019 meneukan bahwa paparan pestisida dapat menjadi faktor risiko terjadinya gangguan pertumbuhan pada anak-anak yang tinggal di daerah pertanian. Tindakan yang diperlukan harus diambil untuk melindungi anak-anak tinggal di daerah pertanian dari paparan pestisida (Kartini dkk., 2019). Selain itu Widyawati dkk (2020) melakukan studi kasus masing-masing bayi yang lahir dengan BBLR (berat lahir

PANDEMI DAN INOVASI: Pemanfaatan Teknologi Plasma Dingin Untuk Mencegah Penularan Dalam RuangCatatan: Tauhid Nur Azhar(s...
08/08/2021

PANDEMI DAN INOVASI: Pemanfaatan Teknologi Plasma Dingin Untuk Mencegah Penularan Dalam Ruang

Catatan: Tauhid Nur Azhar
(seorang dokter, dosen dan peneliti)

Ujian yang kini tengah kita hadapi dalam bentuk pandemi dengan Sars CoV-2 sebagai patogennya, selain telah mengakibatkan masalah serius di bidang kesehatan juga berimbas secara sangat signifikan ke dalam berbagai aspek kehidupan lainnya. Roda ekonomi melambat dan pergerakan manusia beserta aktivitasnya menjadi amat berkurang. Kerawanan muncul di berbagai sektor dan jika tidak disikapi secara bijak, tentu saja dapat berdampak pada menurunnya kualitas hidup secara keseluruhan.

Salah satu persoalan krusial yang mengemuka dan menggejala di berbagai kondisi adalah tingginya potensi penularan di dalam ruang, baik itu di area publik seperti rumah sakit, bandara, kabin kereta api, sampai gedung perkantoran.

Mengingat interaksi sosial adalah salah satu kunci yang sangat penting untuk menjalankan berbagai proses ekonomi, maka diperlukan suatu upaya kongkret untuk mengatasi dan mengurangi potensi penularan di ruang publik dan ranah privat.

Terlebih jika kita berbicara tentang keselamatan di fasilitas kesehatan. Pada kondisi normalpun fasilitas kesehatan memiliki standar tinggi dalam hal pengendalian potensi penularan melalui jalur airborne. Di masa pandemi dengan patogen yang memang sudah teridentifikasi bertransmisi secara airborne tentu amat diperlukan suatu pendekatan berbasis teknologi terkini yang diharapkan dapat mereduksi keberadaan atau muatan patogen di udara dalam ruang.

Teknologi plasma dingin menjadi salah satu pilihan yang sangat efektif dalam mengendalikan keberadaan patogen airborne dalam ruang.
Prof Muhammad Nur, DEA dari Center for Plasma Research Universitas Diponegoro Semarang telah mengembangkan suatu inovasi berbasis teknologi terapan tepat guna dengan menggunakan teknologi plasma dingin sebagai prinsip utamanya. Zeta Green atau teknologi peningkat kualitas udara adalah hasil kongkret dari pengembangan riset plasma di lingkungan Fakultas Sains Matematika Undip.

Plasma sendiri adalah material keempat yang keberadaannya melengkapi materi solid, cair, dan gas. Plasma dihasilkan oleh proses ionisasi gas dalam suhu tinggi. Plasma memiliki sifat konduktif, atau mampu mengalirkan aliran listrik. Sedangkan teknologi plasma dingin dihasilkan oleh reaktor plasma Corona dan DBD.

Dalam teknologi Zeta Green misalnya, 2 reaktor plasma yang digunakan hanya membutuhkan catudaya sekitar 80 Watt dengan tegangan 220 V, dan dapat menghasilkan plasma dingin yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas udara dalam ruang. Di dalam plasma dingin yang dihasilkan terdapat reactive oxygen species seperti O2-, -OH, dan H2O2. Juga reactive nitrogen species seperti NO-, NO2-, NO3-, dan ONOO-. Selain itu terdapat p**a ultra violet, ion positif, elektron, dan emisi gelombang elektromagnetik, yang mana semua unsur itu berpotensi untuk mendenaturasi unsur organik dalam struktur virus, bakteri, dan jamur.

Kapasitas eksisting dari penerapan teknologi plasma dingin sebagai alat utama sistem perbaikan kualitas udara dalam ruang telah dapat menjangkau capaian pemurnian pada volume udara 100 m³ sebagaimana dapat dilihat pada hasil pengujian di laboratorium terpadu Undip. Bergantung kepada spesifikasi teknis terkait, seperti kapasitas maksimal kipas penyedot dan juga dinamika fluida udara dalam ruang itu sendiri.

Pengujian validitas yang telah dilakukan antara lain adalah dengan mengukur tingkat reduksi mikroba dalam ruang yang antara lain diukur dengan menggunakan microbial air monitoring system(MAS-100 NT).

Selain itu bahkan telah dilakukan uji validitas dan tingkat efektifitas fungsi Zeta Green yang berteknologi plasma dingin, secara langsung dalam sebentuk uji tantang (challenge test) dengan menggunakan virus Sars CoV-2 varian Delta (B 1617.2) di fasilitas laboratorium Biosafety Level 3 Prof Nidom Foundation Pasuruan.

Hasil uji tantang tersebut termaktub dalam indikator Tissue Culture Infectious Dose atau TCID-50 dan daya hambat virus. Kedua indikator tersebut memperlihatkan bahwa teknologi purifikasi udara berbasis plasma dingin memiliki tingkat efektifitas sangat tinggi dan diharapkan mampu menghasilkan efek proteksi maksimal terhadap penularan virus di dalam ruang.

Ke depan dapat dipertimbangkan sebentuk kerjasama riset post market dengan perusahaan rintisan bioteknologi Nusantics yang juga tengah mengembangkan produk pemeriksaan kandungan patogen (virus) di udara, yang produknya dinamai Nusantics Air. Dengan kemampuan mengambil sampel udara dalam ruang (menggunakan air biosampler dan swab pada beberapa titik di permukaan) serta kehandalan dalam melakukan pemeriksaan PCR untuk menganalisanya, maka jika kinerja Zeta Green dapat dianalisa efektifitasnya tentu dapat menjadi acuan objektif yang sangat bermanfaat bagi semua pihak.

Kita bisa mendapatkan data terkait durasi ideal penggunaan teknologi plasma dingin untuk mensterilkan sebuah ruangan dalam luasan tertentu. Untuk selanjutnya data ini dapat menjadi acuan pengembangan standard operational procedure dari proses penerapan teknologi plasma dingin dalam ruangan.

Tak pelak teknologi plasma dingin yang dikembangkan Prof Muhammad Nur, DEA yang saat ini juga telah diproduksi dan dimanufaktur oleh perusahan rintisan berbasis teknologi, PT Dipo Technology pimpinan Bapak Azwar, SE, MM, adalah salah satu upaya kongkret hilirisasi produk inovasi peneliti yang berdampak langsung pada proses pengelolaan dan pengendalian pandemi.

Dr. dr. Tauhid Nur Azhar, M.Kes. adalah ketua Task Force Research Innovation Technology Covid 19

https://cpr.undip.ac.id/pandemi-dan-inovasi-pemanfaatan-teknologi-plasma-dingin-untuk-mencegah-penularan-dalam-ruang/?fbclid=IwAR1_M9TnKYXsP_HoKtGldrI1IqMMbUoJOOXJvvAp5qQgJMJHuIIn6OKryV4

Saya postingkan sebuah tulisan kiriman alumni S1 Fisika, FSM, Undip,  Achmad Fajar Putranto,   yang saya bimbing dalam b...
01/03/2021

Saya postingkan sebuah tulisan kiriman alumni S1 Fisika, FSM, Undip, Achmad Fajar Putranto, yang saya bimbing dalam bidang Fisika Plasma. Alhamdulillah belajar untuk S2 di Aix-Marseille Université (AMU) dan insyaallah akan terus S3 mempelajari Plasma Panas (TOKAMAK PLASMA).

==========================================
KUNJUNGAN ITER (International Thermonuclear Experimental Reactor) 2021
Oleh: Achmad Fajar Putranto
Ketika ada yang bertanya kepada saya “kenapa kamu ingin melanjutkan pendidikan di Prancis?” Jawaban saya adalah “karena fusi”. Lalu mereka bertanya lebih jauh “kenapa di Aix-Marseille Université (AMU)?” Maka saya jawab “karena fusi dan ITER1 (International Thermonuclear Experimental Reactor)”. Karena saya berpikir bahwa karena AMU merupakan kampus yang paling dekat dengan ITER maka saya berkesimp**an tidak terlalu sulit untuk berkunjung ke sana. Dan akhirnya, pada tanggal 19 Februari 2021, saya berkesempatan untuk menyaksikan secara langsung kemegahan proyek ITER!
Perkenalkan, saya Achmad Fajar Putranto, mahasiswa asal Indonesia lulusan Fisika Undip yang saat ini sedang menempuh pendidikan master di Aix-Marseille Université (AMU) program plasma science and nuclear fusion.
Jumat, 19 Februari 2021, saya dan mahasiswa master of plasma science and nuclear fusion lainnya bersama dengan teman-teman dari Fusion EP2 melakukan kunjungan ke ITER. Acara tersebut merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan Cadarache Winter Event 20213 yang diselenggarakan oleh CEA-IRFM (The French Alternative Energies and Atomic Energy Commission – Institute for Magnetic Fusion Research) bekerja sama dengan beberapa fusion master program di Prancis dan master Fusion EP.
Sebelum masuk ke dalam lokasi konstruksi ITER, kami diwajibkan menggunakan helm pelindung, sepatu boot, dan sarung tangan tebal. Serta sebagai tanda bahwa kami merupakan tamu yang sudah terverifikasi untuk mengunjungi ITER, seluruh visitors diwajibkan mengalungi kartu pengunjung dan menggunakan rompi kuning.
Acara “ITER master visit 2021” dibagi menjadi beberapa rangkaian kegiatan. Pertama, sesi presentasi terkait ITER oleh Alberto Loarte yang merupakan “ITER section leader” dalam pengoperasian plasma. Beliau memaparkan rencana perjalanan “membawa matahari ke bumi4” yang nanti keluaran akhirnya adalah suatu reaktor daya komersil yang manfaatnya akan dirasakan oleh dunia; serta tantangan eksperimen yang sedang dan akan dihadapi dalam fisika dan engineering. Terdapat satu pernyataan menarik yang beliau katakan, “sebagian besar yang terlibat dalam eksperimen ini mengerti cukup baik bagaimana fisika bekerja di dalam tokamak5 ITER tetapi sangat jarang yang mengerti dari kacamata engineering. Kita membutuhkan lebih banyak orang yang mengerti tentang hal-hal engineering di ITER. Karena semua aspek engineering di sini (ITER) sangatlah unik”. Dan seketika saya berpikir untuk lebih mendalami aspek engineering-nya. Pada faktanya, untuk membangun suatu karya teknologi memang dibutuhkan kolaborasi yang kuat dari sektor sains dan engineering.
Sesi selanjutnya merupakan sesi kunjungan langsung ke beberapa tempat manufaktur komponen ITER. Di awali dengan melihat secara langsung pembangunan “poloidal field coils”. Pembuatan komponen ITER dikerjakan oleh 35 anggota ITER di mana setiap member memiliki bagiannya sendiri (dapat dilihat pada gambar 1; untuk negara kontribusi dari negara eropa, mereka direpresentasikan oleh uni-eropa) yang dibuat di negaranya masing-masing. Berikutnya dapat dilihat di link dibawah ini........

Oleh: Achmad Fajar Putranto Ketika ada yang bertanya kepada saya “kenapa kamu ingin melanjutkan pendidikan di Prancis?” Jawaban saya adalah “karena fusi”. Lalu mereka bertanya lebih jauh “kenapa di Aix-Marseille Université (AMU)?” Maka saya jawab “karena fusi dan ITER1 (International ...

Address

Jalan Prof Sudarto SH, Lab Fisika Plasma, Jurusan Fisika, Fakultas Dains Matematika, Universitas Diponegoro
Semarang

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Center for Plasma Research posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The University

Send a message to Center for Plasma Research:

Share