18/01/2018
Pendidikan menjadi KUNCI UTAMA mengangkat harkat dan martabat manusia Papua
____________________________________________
Yang pertama dan yg utama bhw Papua belum memiliki figur pemimpin yg mampu memahami betapa pentingnya pendidikan atau dengan kata lain pentingya memanusikan manusia Papua melalui dan untuk mengisi berbagai sektor pembangunan. Para pemimpin daerah kita blm satu org pun yg mampu memisahkan antara betapa sulit dan beratnya proses pemanusiaan manusia dengan asepek laninya. Belum mampu membedakan esensi proses pendidikan dengan kepentingan politik praktis. Masih terus campuradukan bahkan sudah lama menghilangkan esensi PROSES PENDIDIKAN SESUNGGUHNYA!
Kenyataan bhw para pemimpin di bidang pendidikan yang ditunjuk pun masih memegang agenda politik praktis, sarat dengan kepentingan politik. Dan bukan menempatkan orang profesional yg memiliki konsep dan agenda pembangunan manusia yg bebas bermartabat sebagai satu kemajuan intelektualitasnya. Dominasi agenda politik praktis berakibat pada matinya roh pendidikan. Pendidikan sungguh tdk di bangun secara benar di atas pedoman hidup "nilai-nilai hidup leluhur" rakyat Papua, rakyat setempat dgn menerapkan metode-metode, pola-pola, kurikulum pendidikan modern yg adaptif.
Pembangunan fisik dari tingkat TK-SMA/SMK bahkan PT tdk terencana, tdk terbangun, tdk merata dgn memperhatikan potensi SDM wilayah masing-masing. Masih banyak yg tertumpuk di wilayah tertentu hanya karena kekerdilan, gagal berpikir dari para pejabat terkait.
Pada satu pihak pengembangan SDM tdk memiliki grand design yg terukur tuk jangka wktu panjang. Regenerasi pembangunan manusia tdk terlihat dan masih abu-abu. Nepotisme memperanakan raja-raja koruptor justru semakin nampak dimana-mana. Akibatnya totalitas manusia Papua tidak menjadi penting sejak itu hingga skrng. Kalau sudah demikian apa yg akan terjadi kemudian?
Penyerapan dana pendidikan, entah dari Dana Otsus dll semakin liar, tak jelas alamatnya sehingga dapat saja diprediksikan pembuatan laporan pertanggungjawaban kepada negara pun fiktif. Tipu muslihatnya saja. Sudah begitu para pihak penegak hukum ikut bermain memacetkan, meniadakan roh pembangunan manusia Papua itu sendiri. Semua terjadi di depan mata, jangan munafik betkata jujur!
Generasi muda potensial diabaikan secara tidak disadari, membaibuta. Padahal sesungguhnya mereka itulah yg sepantasnya mendapatkan kesempatan sejak dini tuk masa depannya yg lebih baik. Intinya selama 17 tahun implementasi Otsus dll yang diperuntukan bangun pendidikan sesungguhnya tidak dimanajemeni dengan serius. Sekali lagi lebih parah bahwa para pemimpin kita dari tingkat provinsi-kabupaten tidak pernah dengan tegas dan mampu memahami dan memisahkan roh pendidikan itu sendiri dgn agenda-agenda politik praktis yg justru merusak tatanan hidup manusia Papua. Bukankah ini sebagai satu kenyataan yg harus dipangkas, diperbaiki, diambil alih oleh generasi muda terdidik dan komitmen tinggi?
____________________________________
Segala masalah di tanah Papua akan teratasi apabila perbaiki perilaku pribadi sebagai pemimpin dengan sungguh sadar. Persentasi alokasi dana pendidikan harus lebih daripada sektor lain. Ini harus dimanage dgn benar. Sektor pendidikan tidak boleh dicampurbaurkan dengan agenda politik praktis. Orang netral diposisikan disana, masa jabatan pun tidak boleh diganti sembarang tetapi memastikan dengan aturan agar profesionalisme dan moralitas kepemimpinanya terwujud. Tuntut agar mampu mewujudkan proses pendidikan yang manusikan manusia itu tanpa tekanan dari pihak manapun. Semoga!!
__________________________ A.Gerald B Kahipdana.