25/12/2012
Belajar Membahagiakan
Suami ...
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ....
Setiap istri pastilah menghendaki
kebahagiaan dalam rumah
tangganya. Maka dari itu,
timbullah sebuah kewajiban bagi
mereka, yaitu tidak hanya melulu
menuntut dibahagiakan, tapi juga
harus mengerti dan mau belajar
tentang bagaimana cara
membahagiakan. Hal ini karena
sebuah rumah tangga adalah
tentang kerjasama serta saling
memberi dan menerima.
Menjadi sebaik- baik perhiasan
bagi suami
Rasulullah SAW pernah ditanya
tentang isteri yang sholihah.
Beliau menjawab: Apabila
diperintah, ia selalu taat, apabila
dipandang ia menyenangkan, dan
ia selalu menjaga diri serta harta
suami (manakala suaminya tidak
ada)” (HR. Nasa`i)
Subhanallah, disinilah istimewanya
wanita ketika menjadi seorang
istri. Dia kelihatan indah dan
terlihat cantik, justru ketika dia
tidak menjadi pemberontak yang
kasar atau pembangkang yang
keras, melainkan yang pandai
belajar untuk selalu menata
hatinya demi sebuah ketaatan.
Wanita akan indah jika dia belajar
perduli dengan keadaan diri dan
sikapnya untuk dipersembahkan
keindahan itu kepada suaminya.
Wanita akan terlihat menawan,
justru ketika dia tidak berkhianat,
dan belajar menjadikan dirinya
pengabdi yang tulus dan pribadi
yang pandai memegang amanah.
Menjadi pengantin baru
Ketika telah memasuki kehidupan
rumah tangga mungkin susah
bagi para istri untuk lebih kreatif
lagi dalam me-refresh suasana
pernikahan karena padatnya
kegiatan monoton yang mengisi
hari- harinya.
Untuk mengatasi hal tersebut,
bukan hal mutlak bagi para istri
untuk jauh- jauh berwisata, atau
ribet dengan serangkaian acara
liburan. Karena kedamaian itu
sebenarnya letaknya di hati, dan
jika kita berada dekat dengan
Allah Subhanahu wata'ala saja.
Istana wanita itu adalah di rumah
suaminya, serta komunikasi
adalah kunci terbaik penyubur
kuatnya hubungan hati suami
istri. Jadi walaupun hanya didalam
rumah, sebenarnya para istri bisa
kembali menumbuhkan
kehangatan untuk selalu
istiqomah dalam menyenangkan
suami. Salah satunya adalah
dengan selalu mengingat saat-
saat menjadi pengantin baru
dulu.
Ingatlah ketika saat-saat itu,
banyak cinta kasih yang ingin
dibagi dengan suami, ingatlah
juga betapa bersemangatnya hati
dan inginnya diri untuk selalu
tampil menjadi yang terbaik dan
paling membahagiakan sang
suami.
Ingatlah betapa saat awal- awal
menikah, semua terasa sangat
indah, bahkan banyak
kemakluman dihadirkan dalam
menanggapi kekurangan suami.
Ingatlah bahwa pernikahan itu
dulu diawali dengan sebuah niat
yang suci, yaitu dalam rangka
beribadah kepada Allah.
InshaAllah dengan begitu hati
akan lebih tenang dalam
menghadapi perubahan dan
kenyataan yang ada sekarang.
Melayani itu bukan pelayan
Melayani juga bukan berarti
menjadi pribadi nomor dua yang
harus selalu berada tunduk patuh
dalam perintah sang nomor satu.
Dengan melayani justru
menjadikan kita pribadi yang
dibutuhkan, kehadiran kita
menjadi hal yang sangat
ditunggu- tunggu karena menjadi
penopang wajib dari yang
dilayani. Itulah makna sebenarnya
dari kata disayang atau dicintai.
Lalu siapakah para istri yang tidak
mendambakan menjadi makhluk
yang paling disayang dan paling
dicintai oleh suaminya?
Indahnya ikhlas.
Sungguh, bukan sesuatu yang
mudah mendidik diri kita untuk
selalu menjadi pribadi pengabdi.
Perlu kesadaran yang prima
terutama dalam mengalahkan
ego sebagai wanita. Serta satu hal
lagi, betapapun besarnya
kesulitan itu, tapi semua akan bisa
di raih jika para istri benar- benar
mau belajar mengikhlaskan
pengabdiannya kepada suami
hanya karena Allah saja.
Karena hanya hati yang ikhlas lah
yang mudah untuk bahagia dan
insyaAllah akan selalu
membahagiakan. Hanya hati yang
ikhlas jugalah, yang bisa berlogika
bahwa tidak masalah bagaimana
timbal balik yang akan
diterimanya dari sang suami, yang
penting ridho Allah bersamanya.
Itu saja sudah lebih dari cukup.
Mulianya sabar
Bahkan batupun bisa berlubang
jika terus- menerus. Seperti itulah
kiasan dari sebuah sifat sabar.
Bagaimanapun keras dan
susahnya menghadapi suami,
namun jika para istri bersikukuh
untuk bersabar, maka
kebahagiaan hanyalah masalah
waktu.
Karena sabar adalah ibarat mata
uang yang berlaku dimana saja,
yang mampu membeli
kebahagiaan betapapun
mahalnya harga kebahagiaan
tersebut. Dengan sabar,
kebahagiaan InshaAllah akan
menjadi bagian dari sebuah
rumah tangga.
Belajar dan berproses
Jika dari awal kita merasa tidak
memiliki bakat untuk menjadi
seorang pengabdi atau seseorang
yang berhati lembut untuk bisa
memahami suami, maka
tanamkan dalam diri bahwa tidak
memiliki bakat bukan berarti tidak
bisa menjadi orang yang
berbakat.
Semua hal insyaAllah bisa
dipelajari, jika kita benar- benar
mau belajar. Kekurangan yang
menjadi hal mutlak yang dimiliki
manusia, pastilah bisa di rubah,
jika kita memang benar- benar
serius untuk berubah.
Jangan kawatir, semua hal yang
baik memanglah membutuhkan
proses, yang terpenting adalah
kita benar- benar serius untuk
berproses. menjadi lebih baik,
tentunya.
(Syahidah/voa-islam.com).. Segala puji bagi Allah, yang
dengan nikmat-Nya sempurnalah
semua kebaikan ....