07/02/2017
Mendidik Anak di Era Digital
Oleh : Ima Purnamasari
(Santri Pesma Mutiara Angkatan 2)
Tulisan ini pernah dipublikasikan pada tanggal 19 December 2010.
Merebaknya, perzinahan dan pergaulan bebas adalah salah satu kerusakan yang terjadi di Negara kita, Indonesia. Menjamurnya media berbau p***ografi dibiarkan oleh penguasa. Korbannya tentu saja para generasi muslim dan muslimah masa depan, anak-anak dan remaja. Media tersebut di antaranya: game, internet, telepon selular, televisi, VCD, komik, dan majalah.
Selain persoalan p***ografi, kecanduan game juga berdampak negatif bagi prestasi akademik dan bisa menyebabkan kerusakan pada retina mata. Untuk itu, orang tua perlu memantau aktivitas, pergaulan, dan perkembangan anaknya agar terhindar dari p***ografi. Dan juga, harus mengenali ciri-ciri anak yang kecanduan p***ografi. Karena p***ografi dapat merusak lima bagian otak, dibandingkan dengan danpak pemakaian kokain yang merusak tiga bagian otak manusia.
Ciri-ciri anak kecanduan p***ografi yang saya (penulis, red) tahu yaitu mudah kehausan, sering buang air kecil, sering berkhayal, sulit konsentrasi, sering bermain play station dan internet dalam waktu yang lama, dan prestasi akademik menurun.
Kenapa anak dijadikan sasaran penyebaran p***ografi?
Karena anak-anak merupakan pasar masa depan, sehingga para pembuat p***ografi membentukt mental model p***o dan perpustakaan p***o pada anak yang bisa diakses kapan saja dan dimana saja. Pembuat p***ografi juga menginginkan sasarannya mengalami kerusakan otak permanent. Banyaknya kalangan anak remaja yang kecanduan p***ografi, disebabkan karena sejumlah faktor. Salah satunya, karena orang tua tidak memiliki waktu yang cukup untuk anak, kurang tanggap dan gagap teknologi, serta pendidikan agama dan pengontrolannya masih kurang.
Demikianlah, telah tampak kerusakan yang terjadi di negeri ini mengancam generasi muslim masa depan. Bahkan merebaknya hal-hal berbau p***ografi, langsung atau tidak langsung dibiarkan atau bahkan dikondisikan oleh pemerintah. Bagaimana tidak, iklan-iklan di televisi yang mengumbar aurat dibiarkan. Pemerintah juga memiliki program internetisasi sekolah, sementara di waktu yang sama belum sanggup menghentikan situs-situs yang berbau p***ografi. Termasuk di dalamnya, perusahan-perusahaan penyedia jasa layanan internet, layanan pemuas nafsu pada saluran telekomunikasi, komik-komik bergambar p***o pun masih beredar, dan lain-lain.
Inilah akibat sekularisme, pemisahan agama dari kehidupan yang terjadi di negeri ini.
Apakah hal tersebut kita biarkan saja?
Tentu tidak, kita harus menyelamatkan generasi muda dengan pondasi pemahaman agama yang kuat, diiringi dengan pendidikan s*x sejak dini dan terus menerus meng-up grade diri agar tidak ketinggalan seiring berkembangnya zaman agar kita dapat mengontrol apa saja yang dilakukan anak-anak kita saat menggunakan teknologi, internet, dan sebagainya. Harus ada ikatan emosional danbathiniyah yang kuat antara orang tua dan anak. Tanggung jawab pertama pendidikan terletak pada orang tua, orang tua adalah pendidik utama.
Bakat dan kreativitas anak akan berkembang optimal jika lingkungan kondusif. Sebuah keluarga yang menghargai pendidikan dalam suasana yang aman dan bebas secara psikologis dapat menghantarkan anak untuk mengembangkan bakat dan kreatifitasnya. Sehingga anak-anak dapat terhindar dari hal-hal negatif seperti p***ografi, narkoba, dan sebagainya.
Seiring dengan kemajuan teknologi, informasi dapat diperoleh dengan banyak cara, mulai dari hal bersifat lisan hingga media cetak seperti buku-buku, majalah-majalah, surat-surat kabar dan brosur-brosur atau selebaran-selebaran, kemudian media elektronik seperti radio, televisi, handphone, hingga komputer dengan internetnya. Bagi para orang tua yang sudah mapan dan maju penguasaan teknologinya, tentunya berkesempatan banyak untuk melakukan controlling. dalam masalah pembinaan dan mendidik putera-puteri mereka, termasuk tentunya dalam menghindarkan mereka ke situs, tulisan, atau gambar yang seharusnya tidak mereka konsumsi.
*Penulis
Ima Purnamasari adalah mahasiswi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga (UNAIR). Ima adalah salah seorang santriwati Pesma Putri Mutiara. Aktif dalam kegiatan dakwah dan menjadi bagian dari KAMMI.