IAIN Surakarta

IAIN Surakarta Sejarah IAIN Surakarta Hasrat untuk mendirikan semacam lembaga pendidikan tinggi Islam itu bahkan sudah dirintis sejak zaman penjajahan. Demikian alasan Satiman.

SEJARAH SINGKAT IAIN

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) yang sekarang berjumlah 14 mungkin bukan merupakan bentuk kelembagaan yang final dalam perkembangan kelembagaan Perguruan Tinggi Islam di Indonesia. Seperti tercatat dalam sejarah, nama Perguruan Tinggi Islam (PTI) di Indonesia terus berubah sebagai upaya meresponi perkembangan masyarakat dan sekaligus juga sebagai obyek tarik menarik antara

berbagai kekuatan atau kelompok dalam masyarakat. Kehadiran IAIN di tengah masyarakat pada dasarnya merupakan perwujudan dari suatu cita-cita yang telah lama terkandung di hati sanubari umat Islam Indonesia. Dr. Satiman Wirjosandjoyo dalam Pedoman Masyarakat No. 15 Tahun IV (1938) pernah melontarkan gagasan pentingnya sebuah lembaga pendidikan tinggi Islam dalam upaya mengangkat harga diri kaum Muslim di tanah Hindia Belanda yang terjajah itu. Dikatakan oleh Satiman antara lain bahwa sewaktu Indonesia masih tidur, onderwijs (pengajaran) agama di pesantren mencukupi keperluan umum. Akan tetapi setelah Indonesia bangun, maka diperlukan adanya sekolah tinggi agama. Apalagi dengan kedatangan kaum Kristen yang banyak mendirikan sekolah dengan biaya rendah dan dikelola oleh orang-orang yang berpendidikan tinggi, maka keperluan akan adanya sekolah tinggi agama Islam itu semakin terasakan lagi dan kalau tidak, pengaruh Islam akan semakin kecil. Gagasan tersebut kemudian terwujud pada tanggal 8 Juli 1946 ketika Sekolah Tinggi Islam (STI) berdiri di Jakarta di bawah pimpinan Prof. Abdul Kahar Muzakkir, sebagai realisasi kerja sebuah yayasan (Badan Pengurus Sekolah Tinggi Islam) yang dipimpin oleh Drs. Mohammad Hatta sebagai ketua dan M. Natsir sebagai sekretaris. Dalam memorandumnya Drs. Moh. Hatta menyatakan bahwa agama adalah salah satu tiang kebudayaan bangsa. Oleh karena penduduk Indonesia 90 % beragama Islam maka pendidikan agama Islam adalah salah satu soal maha penting dalam memperkokoh kedudukan masyarakat. Untuk itu perlu didirikan Sekolah Tinggi Islam (STI). Pada masa revolusi STI ikut Pemerintah Pusat Republik Indonesia hijrah ke Yogyakarta dan pada tanggal 10 April 1946 dapat dibuka kembali di kota itu. Pada November 1947 dibentuk Panitia Perbaikan STI, yang dalam sidangnya sepakat mendirikan Universitas Islam Indonesia (UII) pada 10 Maret 1948 dengan empat fakultas: Agama, Hukum, Ekonomi, dan Pendidikan. Pada 20 Februari 1951 Perguruan Tinggi Islam Indonesia (PTII), yang berdiri di Surakarta pada 22 Januari 1950, bergabung dengan UII yang berkedudukan di Yogyakarta. Sebagai wujud penghargaan pemerintah bagi Yogyakarta sebagai Kota Revolusi, kepada golongan nasionalis diberikan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang diatur berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1949 tanggal 16 Desember 1949. Ini bermula dengan pendirian Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada pada 17 Pebruari 1946 yang kegiatannya tertunda karena Belanda menduduki Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Setelah persetujuan Roem Royen ditanda tangani pada 7 Mei 1949 muncul keinginan untuk segera menyelenggarakan kembali pendidikan tinggi nasional. Pada awalnya keinginan itu berhimpitan dengan rencana perbaikan Perguruan Tinggi federal sesuai dengan bentuk negara yang diusulkan Belanda ketika itu, tetapi para republikan tetap menginginkan Republik Indonesia memiliki Perguruan Tinggi sendiri di Yogyakarta. Atas bantuan Sultan Hamengkubuwono IX, beberapa bangunan milik kraton Yogyakarta digunakan untuk kegiatan Perguruan Tinggi dan sejak 7 Desember 1949 semua lembaga pendidikan tinggi negeri yang berada di Yogyakarta digabungkan di bawah satu atap dalam naungan Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang kemudian dikukuhkan dengan PP No. 23 tanggal 16 Desember 1949 tersebut dan sejak 14 Desember 1949 Pemerintah RI secara resmi mulai menyelenggarakan Perguruan Tinggi Negeri yang dikenal dengan Universitas Gadjah Mada. Kemudian pada 1954 kata "universiteit" diganti dengan kata "universitas" dan kata "negeri" dihilangkan sehingga menjadi Universitas Gadjah Mada. Sementara itu, kepada golongan Islam diberikan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN), yang diambil dari Fakultas Agama UII berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 1950. Peresmian PTAIN dengan jurusan Da'wah (kelak Ushuluddin), Qodlo (kelak menjadi Syari'ah) dan Pendidikan (Tarbiyah) menjadi Perguruan Tinggi Negeri dilakukan pada 26 September 1951. Sementara di Jakarta, enam tahun kemudian berdiri pula Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) pada 14 Agustus 1957 berdasarkan Penetapan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 1957. Dalam rangka menjadikan PTAIN Yogyakarta dan ADIA Jakarta lebih memenuhi kebutuhan umat Islam akan pendidikan tinggi Agama Islam, dikeluarkanlah Peraturan Presiden Nomor 11 Tahun 1960 tentang pembentukan Institut Agama Islam Negeri. Menurut dokumen ini, penggabungan itu diberi nama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) "Al-Jami'ah al-Islamiah al-Hukumiyah" yang berkedudukan di Yogyakarta, dengan PTAIN Yogyakarta sebagai Induk dan ADIA Jakarta sebagai fakultas dari Institut baru tersebut. IAIN ini akhirnya diresmikan pada 24 Agustus 1960 di Yogyakarta oleh Menteri Agama, K. H. Wahib Wahab. Perkembangan IAIN yang pesat dengan bermunculannya fakultas-fakultas cabang di berbagai pelosok tanah air menyebabkan dikeluarkannya Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 1963, yang memungkinkan didirikannya suatu IAIN yang terpisah dari pusat. Sudah barang tentu, berdasarkan pertimbangan historis, Jakartalah yang pertama mendapatkan kesempatan untuk memiliki IAIN baru ini. Dengan demikian, IAIN Jakarta adalah IAIN kedua yang berdiri setelah IAIN Yogyakarta. Kini, IAIN sudah berjumlah 14 buah dengan dibukanya IAIN terakhir di Sumatra Utara pada 1973 oleh Menteri Agama waktu itu, Prof. Dr. H. A. Mukti Ali. Berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 26 Tahun 1965, maka terhitung sejak 1 Juli 1965 IAIN "Al-Jami'ah" di Yogyakarta diberi nama Sunan Kalijaga, nama salah seorang tokoh terkenal penyebar agama Islam di Indonesia. Kini hampir 49 tahun sudah usia IAIN Sunan Kalijaga, dihitung sejak diresmikannya PTAIN pada 26 September 1951. Penetapan tanggal ini dikuatkan dengan Keputusan Menteri Agama Nomor 100 Tahun 1982 dan Keputusan Menteri Agama No. 399 Tahun 1993 tentang Statuta IAIN Sunan Kalijaga. IAIN-IAIN lain juga diberi tambahan nama seperti Syarif Hidayatullah untuk IAIN Jakarta, Walisongo untuk Semarang, Sunan Gunung Jati, Bandung dan sebagainya.***

Disadur dari Artikel Atho Mudzhar, "Kedudukan IAIN sebagai Perguruan Tinggi"

http://www.ditpertais.net/ttgiain.asp

18/02/2019
SINAR – Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Saifuddin, melantik Dr. Mudhofir sebagai Rektor Institut Agama Islam Negeri ...
27/09/2015

SINAR – Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Saifuddin, melantik Dr. Mudhofir sebagai Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta periode 2015-2019 di Gedung Kementerian Agama Jakarta, Selasa (1/9).
Seremonial pisah sambut Rektor IAIN Surakarta 2011-2015 (Dr. Imam Sukardi) kepada Rektor IAIN Surakarta 2015-2019 (Dr. Mudhofir) berlangsung di gedung Graha IAIN Surakarta pada Senin (7/9). Pisah sambut sekaligus serah terima jabatan berjalan hikmat dan penuh s**a cita dengan disaksikan oleh seluruh dosen, karyawan dan mitra kerja IAIN Surakarta.
Dalam sambutan akhir Rektor IAIN Surakarta periode 2011 – 2015 menyampaikan beberapa inovasi yang telah dicapai pada masa kepemimpinannya di bidang pembelajaran, penelitian, pengabdian masyarakat, manajemen, serta kemajuan di semua unit kerja. Imam mengatakan, “Kedepan diharapkan secara kelembagaan dapat terus dikembangkan lagi dalam mewujudkan cita-cita menjadi UIN Surakarta yang unggul dan maju serta memiliki daya saing yang tinggi”. Tak lupa Imam mengucapkan selamat kepada Rektor IAIN Surakarta yang baru semoga bisa mengemban amanah ini menjadi lebih baik.
Sementara itu, Mudhofir mengucapkan selamat atas prestasi Rektor sebelumnya, dedikasi serta telah mengantarkan proses transisional ini dengan aman. “Ini merupakan sukses terbesar Rektor 2011-2015. Sejumlah 55 PTAIN se Indonesia memuji IAIN Surakarta terkait amannya proses transisi kepemimpinan yang berlangsung. Ini merupakan salah satu tradisi unggul yang baik yang patut kita jaga,” tutur Mudofir dalam sambutan perdananya menjadi Rektor baru.
Selain itu Mudofir juga mengajak para civitas akademik agar mengedepankan prasangka baik terhadap kepemimpinan yang akan berlangsung. “Mulailah kepemimpinan ini dengan prasangka baik yang artinya membenarkan pikiran baik, perilaku yang baik, produktifitas yang baik, kepuasan, sehingga akan menghasilkan pengakuan,” imbuhnya.
“Kami akan memulai kepemimpinan ini dengan baik, transparan, akuntabel, melanjutkan kepemimpinan yang baik, mengedepankan prasangka baik menjadi awal kerja yang baik untuk mencapai cita-cita yang unggul,” pungkasnya. (yin)

Sumber: http://www.iain-surakarta.ac.id/?p=2282

IAIN Surakarta Wisuda 525 Sarjana dan MagisterDiterbitkan tanggal 11 April 2015SINAR – Institut Agama Islam Negeri (IAIN...
14/04/2015

IAIN Surakarta Wisuda 525 Sarjana dan Magister
Diterbitkan tanggal 11 April 2015

SINAR – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta menggelar rapat senat terbuka dengan agenda wisuda magister dan sarjana ke ###, Sabtu (11/4) di gedung Graha IAIN Surakarta. Dalam kesempatan ini tema yang diangkat adalah “Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dan Tantangan Pasar Kerja Eksternal”, orasi ilmiah disampaikan oleh Dr. H. Agus Maimun, M. Pd (Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama UIN Maliki Malang).
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga IAIN Surakarta dalam laporannya menyebutkan, dengan merujuk pada keputusan Rektor IAIN Surakarta Nomor 76 Tahun 2015 jumlah wisuda Magister dan Sarjana ### IAIN Surakarta Tahun 2015 sebanyak 525 wisudawan, yang terdiri dari 23 wisudawan program magister (S2) dan 502 wisudawan program sarjana (S1).
Putri Irma Solikhah dari program magister (S2) meraih nilai tertinggi (cumlaude) pada wisuda IMG_0522periode ini. Mahasiswi jurusan Manajemen Pendidikan Islam ini meraih IPK 3,73 dengan masa studi 1 Th 10 Bln. Sedangkan dari program sarjana (S1), mahasiswa atas nama Darsono dari program studi Pendidikan Bahasa Inggris cumlaude dengan IPK 3,73 dengan masa studi 4 Th 6 Bln.
Sementara itu Dr. H. Imam Sukardi selaku Rektor IAIN Surakarta mengatakan dalam sambutannya, lulusan IAIN Surakarta sebagai agent of chance mempunyai tanggung jawab yang besar dalam berkompetisi mengubah dunia ini menjadi lebih baik, maka dari itu para lulusan diminta untuk terus mengembangkan keilmuan dan mengasah kepekaan terhadap persoalan sosial keagamaan, pendidikan, ekonomi, budaya, dan teknologi yang terus berkembang.
Di akhir sambutan, Rektor IAIN Surakarta mengucapkan selamat kepada para wisudawan dan wisudawati yang telah menyelesaikan studi dengan baik dan berharap para lulusan yang telah menjadi alumni baru IAIN Surakarta tidak melupakan dan tetap menjaga nama baik almamaternya kapanpun dan dimanapun berada.
Berikanlah kontribusi positif yang terbaik kepada masyarakat dalam berbagai bentuknya sebagai salah satu cara yang terbaik untuk menyebarkan semerbak keharuman bagi almamater, pungkasnya. (Mahendra)

http://180.250.153.10/?p=1612

SINAR – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta menggelar rapat senat terbuka dengan agenda wisuda magister dan sarjana ke ###, Sabtu (11/4) di gedung Graha IAIN Surakarta. Dalam kesempatan ini tema yang diangkat adalah “Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dan Tantangan Pasar Kerja…

24/05/2014

Insitut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta

24/05/2014

Insitut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta

24/05/2014

Lokakarya Kurikulum Bahasa Inggris

Sukoharjo – Pusat Pengembangan Bahasa (P2B) mengadakan lokakarya kurikulum Bahasa Inggris di Gedung Laboratorium lantai 4, Rabu (21/5). Tujuan dari lokakarya ini adalah sebagai persiapan pelaksanaan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Bahasa Inggris.

Drs. Abdullah Faishol, M. Hum mengatakan bahwa lokakarya ini akan minimal menghasilkan silabus Bahasa Inggris 1 (listening dan speaking) dan 2 (reading dan structure) yang dapat digunakan untuk mahasiswa baru tahun ajaran 2014/2015. Selanjutnya lokakarya ini akan mengkrisiti dan merevisi buku ajar terbaru. Buku ajar ini merupakan produk awal yang masih perlu dievaluasi agar bisa menjadi standar baku di IAIN Surakarta. Pihak P2B juga akan membentuk sebuah konsorserium atau sebuah forum dosen dan tutor Bahasa Inggris.

Selain itu lokakarya ini juga dimaksudkan untuk menstandarkan test bahasa karena pada umumnya dosen mempunyai standar test yang berbeda-beda sehingga diharapkan ada pemetaan kualitas dari masing-masing fakultas.

Rektor IAIN Surakarta, Dr. Imam Sukardi sangat berharap agar para pengajar nantinya bisa membuat mahasiswa lebih lebih sukses dibanding para pengajarnya. Kata rektor, “Don’t only think how you are success but think how the others success because of you”. Hal itulah yang menjadi penyemangat para dosen senior dan tutor yang sebagian merupakan alumni jurusan Sastra Inggris dan Pendidikan Bahasa Inggris di IAIN Surakarta. Beliau juga menekankan agar para pengajar memotivasi mahasiswa dengan maksimal.

Narasumber dari kegiatan ini adalah Rahardjo Budi Santoso, M.Pd, Zainal Arifin, M.Pd dan Budiasih, M.Hum diketuai oleh Drs. Hj. Woro Retnaningsih, M.Pd. Peserta lokakarya berjumlah 50 yang terdiri dari dosen bahasa Inggris IAIN Surakarta dan dari perguruan tinggi lain serta tutor yang notabene alumni IAIN Surakarta. Lokakarya kurikulum Bahasa Inggris ini diikuti lokakarya kurikulum Bahasa Arab pada Kamis (22/5). (yin)

http://www.iain-surakarta.ac.id/index.php/berita/berita-terkini/654-lokakarya-kurikulum-bahasa-inggris

17/03/2014

Diskusi Ilmiah Pascasarjana IAIN Surakarta

17/06/2013
04/02/2013

Musim Hujan Terus berlanjut... Tapi liburan akan berakhir... :)
Selamat datang Mahasiswa IAIN Surakarta di semester baru.

Gedung IAIN Surakarta 2012
19/11/2012

Gedung IAIN Surakarta 2012

Mohon Do'a untuk Pembangunan Masjid IAIN Surakarta
26/09/2012

Mohon Do'a untuk Pembangunan Masjid IAIN Surakarta

Address

Jalan Pandawa Pucangan Kartasura
Surakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when IAIN Surakarta posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share