22/12/2013
Peringatan Hari Ibu bagi Muslim
Hari Ibu adalah hari peringatan atau perayaan
terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya,
baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan
sosialnya.
Peringatan dan perayaan biasanya dilakukan dengan
membebastugaskankan ibu dari tugas domestik yang
sehari-hari diang`gap merupakan kewajibannya,
seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah
tangga lainnya. Di Indonesia hari Ibu dirayakan pada
tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai
perayaan nasional.
Berbakti pada Ibu Lebih Utama
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau
berkata,
ﺟَﺎﺀَ ﺭَﺟُﻞٌ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
– ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﻦْ ﺃَﺣَﻖُّ ﺑِﺤُﺴْﻦِ ﺻَﺤَﺎﺑَﺘِﻰ
ﻗَﺎﻝَ » ﺃُﻣُّﻚَ « . ﻗَﺎﻝَ ﺛُﻢَّ ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ » ﺃُﻣُّﻚَ « . ﻗَﺎﻝَ ﺛُﻢَّ ﻣَﻦْ
ﻗَﺎﻝَ » ﺃُﻣُّﻚَ « . ﻗَﺎﻝَ ﺛُﻢَّ ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ » ﺛُﻢَّ ﺃَﺑُﻮﻙ
“Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Siapa dari
kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?’
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
‘Ibumu.’ Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
‘Ayahmu’.” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no.
2548).
mam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Dalam
hadits ini terdapat dorongan untuk berbuat baik
kepada kerabat dan ibu lebih utama dalam hal ini,
kemudian setelah itu adalah ayah, kemudian setelah
itu adalah anggota kerabat yang lainnya. Para ulama
mengatakan bahwa ibu lebih diutamakan karena
keletihan yang dia alami, curahan perhatiannya pada
anak-anaknya, dan pengabdiannya. Terutama lagi
ketika dia hamil, melahirkan (proses bersalin),
ketika menyusui, dan juga tatkala mendidik anak-
anaknya sampai dewasa” (Syarh Muslim, 8: 331).
Berbakti pada Ibu itu Setiap Waktu, Bukan Setahun
Sekali
Allah Ta’ala berfirman,
ﻭَﻭَﺻَّﻴْﻨَﺎ ﺍﻟْﺈِﻧْﺴَﺎﻥَ ﺑِﻮَﺍﻟِﺪَﻳْﻪِ ﺣَﻤَﻠَﺘْﻪُ ﺃُﻣُّﻪُ ﻭَﻫْﻨًﺎ ﻋَﻠَﻰ
ﻭَﻫْﻦٍ ﻭَﻓِﺼَﺎﻟُﻪُ ﻓِﻲ ﻋَﺎﻣَﻴْﻦِ ﺃَﻥِ ﺍﺷْﻜُﺮْ ﻟِﻲ ﻭَﻟِﻮَﺍﻟِﺪَﻳْﻚَ
ﺇِﻟَﻲَّ ﺍﻟْﻤَﺼِﻴﺮُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat
baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya
telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang
bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua
tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua
orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah
kembalimu” (QS. Lukman: 14). Perintah berbakti di
sini bukan hanya berlaku pada bulan Desember
saja, namun setiap waktu.
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ath Thorifi hafizhohullah
berkata, “Perayaan hari Ibu adalah perayaan dari
barat. Mereka orang-orang kafir di sana punya
perayaan hari ibu, juga ada peringatan hari anak.
Kita -selaku umat Islam- tidak butuh pada peringatan
hari Ibu karena Allah Ta’ala sudah memerintahkan
kita untuk berbakti pada ibu kita dengan perintah
yang mulia. Begitu p**a Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam pernah ditanya, siapakah yang lebih berhak
bagi kita untuk berbakti. Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjawab, ibumu, ibumu, ibumu lalu
bapakmu. … Intinya, kita selaku umat Islam tidaklah
butuh pada peringatan hari ibu. Karena kita
diperintahkan berbakti pada ibu setiap saat, tidak
perlu bakti tersebut ditunjukkan dengan peringatan
dan semisal itu. Intinya, peringatan tersebut tidaklah
dituntunkan dalam Islam dan seorang muslim sudah
sepantasnya tidak memperingatinya.” (Youtube: Al
Ihtifal bi ‘Iedil Umm)